6 AnakTerjangkit Difteri di Cikadu, 2 Meninggal

0
297

CIANJUR, patas.id – Dua orang meninggal dan empat lainnya dirawat intensif lantaran mengidap penyakit difteri. Diduga penyakit menular ini menyebar melalui udara dan kontak langsung, sebab lima orang merupakan kaka beradik dan satu di antaranya masih bersaudara.

Perlu diketahui, difteri merupakan infeksi bakteri yang memiliki efek serius pada selaput lendir hidung dan tenggorokan. Bakteri yang menyebabkan penyakit ini dapat menghasilkan racun yang merusak jaringan pada manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan.

Munculnya kasus pengidap difteri asal Kecamatan Cikadu tersebut saat empat orang yakni Rina (12 tahun), Dudu (19 tahun), Siti (17 tahun), dan Sandri (10 tahun) dibawa ke RSUD Pagelaran, beberapa hari lalu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, empat orang yang merupakan kakak beradik tersebut mengidap dipteri. Pihak rumah sakit pun segera menangani secara serius untuk memulihkan kondisinya.

“Oleh tim medis RSUD Pagelaran langsung ditangani. Setelahnya, kondisi pasien mulai membaik. Tapi untuk penanganan lebih lanjut kami rujuk ke RSUD Cianjur,” ujar Dirut RSUD Pagelaran, Neng Efa Fatimah saat dihubungi melalui telepon seluler.

Selain empat orang tersebut, diketahui ternyata ada dua lainnya yang mengidap penyakit serupa, namun sudah meninggal sebelum dibawa ke rumah sakit. Keduanya ialah Deni (15 tahun) yang meninggal pada 7 September 2017 dan Rini (5 tahun) yang meninggal pada 15 September 2017.

“Melihat banyaknya pengidap tersebut, kami sudah layangkan surat untuk ditindaklanjuti oleh Dinkes Kabupaten Cianjur, terutama untuk penyebab dan antisipasi penyebarannya.”

Setelah dirujuk, para pasien difteri tersebut langsung masuk ruang isolasi di RSUD Cianjur untuk mengantisipasi penyebaran ke pasien lain dan percepatan penyembuhan.

Bakteri penyebab penyakit.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur, Agus Haris, menuturkan, penyakit difteri di 2017 baru terjadi kali ini, namun jumlahnya cukup tinggi karena langsung menyerang empat orang, ditambah yang sudah meninggal sebelumnya.

“Sebenarnya untuk difteri, satu orang pun sudah masuk Kejadian Luar Biasa (KLB). Dengan jumlah di atas empat, tentunya ini bakal jadi perhatian kami.” 

Agus mengungkapkan, kasus difteri paling tinggi terjadi pada 2000, dimana jumlahnya sampai puluhan orang, dengan wilayah paling banyak di Cugenang dan Cikalong. Namun setelahnya berangsur turun hingga hanya satu atau dua kasus per tahun, dan sejak 2011 belum ditemukan lagi hingga sebelum kasus di Cikadu muncul.

Menurutnya, kasus difteri tersebut bisa muncul lantaran pasien tidak diimunisasi difteri saat kecil. Penyakit tersebut bisa sangat berbahaya hingga mengakibatkan kematian jika terlambat ditangani.

“Dalam waktu dua pekan, bisa berdampak fatal kalau tidak ditangani. Namun yang empat ini kan sudah ditangani, kondisinya juga sudah membaik.” 

Agus berjanji bahwa Dinkes akan melakukan penelusuran ke lapangan untuk melihat penyebab menyabarnya difteri selain dari imunisasi, sebab lingkungan yang jorok juga bisa memicu difteri. Penyebarannya sendiri bisa melalui air liur hingga lewat udara.

“Kami akan tindaklanjuti, tapi paling penting kami ingin sadarkan warga untuk mengimunisasi anaknya dan memastikan lingkungan sehat serta bersih,” pungkasnya. (isl)

 

Comments

comments