29 Warga Sukanagara Keracunan Nasi Kotak

0
185

CIANJUR, patas.id – Sebanyak 29 warga Kampung Babakan Baru RT 04/RW 01 Desa Sukalaksana Kecamatan Sukanagara alami keracunan hingga mengakibatkan muntah, mencret, dan pusing. Diduga nasi kotak yang dibagikan kepada warga menjadi penyebab keracunan massal tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian tersebut berawal saat digelarnya syukuran 40 hari bayi dari salah seorang warga, Kamis (14 September 2017). Puluhan paket nasi kotak berisikan nasi kuning, telur, bihun dan tahu dibagikan.

Keesokan harinya, Jumat (15 September 2017), sejumlah warga mulai mengeluhkan pusing dan mual. Beberapa di antaran hingga mencret, namun pada saat itu warga menganggap hal biasa dan mengobatinya dengan mengkonsumsi obat warung.

Tetapi saat Sabtu (16 September 2017) pagi, semakin banyak warga yang mengeluhkan gejala yang sama. Bahkan jumlahnya mencapai 29 orang, mulai dari yang hanya mual dan pusing, hingga mencret.

“Ada syukuran, satu kampung dibagi nasi kotak. Saya mulai merasa pusing, kemudian mencret Jumat siang, sekitar pukul 14.00 WIB,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.

Menurutnya, hingga saat ini, dia masih mencret sebab belum memeriksakan kondisinya ke tim medis dari puskesmas yang datang pada Sabtu pagi.

“Sampai sekarang masih mules, yang lain juga ada yang masih pusing dan muntah.” 

Kepala Keperawatan dan Promkes Puskesmas Sukanagara, Hambali, menuturkan bahwa begitu mendapatkan informasi terjadi keracunan massal, tiga orang petugas medis dari Puskesmas langsung ke lokasi dan melakukan pemeriksaan serta penanganan.

“Awalnya 15 orang, kemudian hari ini jadi 29 orang. Tapi setelah dilakukan penanganan, sebagian besar sudah membaik, tinggal 8 orang lagi yang masih mengeluhkan pusing, muntah, dan mencret. Kalau kondisinya masih belum membaik, kami sudah imbau untuk dibawa ke puskesmas.” 

Menurutnya, keracunan tersebut diduga disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi warga, dimungkinkan ada makanan yang sudah tidak baik untuk dikonsumsi. Namun pihaknya kesulitan untuk melakukan tes atau pengujian labolatorium, sebab sudah tidak ada sampel makanan.

“Makannya sudah tidak ada, jadi kesulitan untuk memastikan apakah dari nasi atau lauknya. tapi sedang diusahakan mencari sampel lainnya supaya bisa dipastikan penyebabnya. Untuk sekarang kami fokus pada pemulihan kondisi warga,” ucapnya. (isl)

Comments

comments