CIANJUR, patas.id – Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, sengaja menyamar untuk mengungkap praktek prostitusi di kawasan Cianjur utara. Dari penyamarannya, Herman mengamankan tujuh orang perempuan yang sebagian di antaranya masih di bawah umur.

Dengan menggunakan pakaian preman, lengkap dengan topi dan syal yang menutupi bagian hidung sampai dagu, Herman menyamarkan identitasnya dan memancing mucikari serta para Pekerja Seks Komersial (PSK).

Setelah beberapa puluh menit melakukan komunikasi dan berpura-pura melakukan transaksi, Herman pun berhasil mengamankan tujuh perempuan yang berada di bawah koordinasi mucikari. Para perempuan kemudian dibawa ke Kantor Satpol PP Kabupaten Cianjur untuk didata dan rencananya dilakukan pembinaan.

Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengatakan kepada wartawan usai razia, Kamis (14 September 2017), bahwa ‎dirinya ingin mengetahui langsung praktek prostitusi di Cianjur, khususnya di Cipanas dan sekitarnya. Apalagi belum lama ini sempat terjaring puluhan PSK.

“Ternyata memang masih banyak, meskipun sebelumnya sudah dirazia. Parahnya, ada anak yang masih di bawah umur, antara 16 tahun. Mereka putus sekolah dan memilih menjadi PSK.”

Menurutnya, seorang perempuan dihargai Rp 300 ribu untuk layanan short time. “Jadi hanya sekali keluar, biaya Rp 300 ribu. Sebagian untuk mucikarinya,” kata dia.

‎Selain tujuh perempuan tersebut, 20 perempuan juga ikut terjaring oleh Satpol PP Kabupaten Cianjur dan turut diamankan untuk mendapatkan pembinaan. Beberapa di antaranya pun dikirim ke panti rehabilitasi di Sukabumi.

“Yang memang benar PSK, kami kirim ke Sukabumi supaya ada perubahan.” 

Herman menambahkan, Pemkab bakal terus melakukan razia hingga praktek prostitusi di Cianjur hilang. Tidak hanya PSK, ke depan peredaran miras juga bakal diberantas. “Cianjur ini harus agamis, apalagi dengan program Cianjur anti maksiat,” ucapnya. (isl)

Comments

comments