Sejarah Lampegan: Catatan Perjalanan Eliza Ruhamah Scidmore

0
188
Halaman dalam buku "Java Garden of the East" cetakan awal (gambar kiri), cetakan baru yang diterbitkan Oxford (gambar tengah), serta foto Eliza, penulisnya (gambar kanan).

PATAS.ID – Selain disebutkan dalam catatan perjalanan yang dibuat oleh Letnan HCC Clockener Brousson, sedikit gambaran mengenai perjalanan kereta api jaman kolonial yang menyebutkan Cianjur terdapat juga dalam buku yang ditulis oleh Eliza Ruhamah Scidmore (1856–1928).

BACA: Sejarah Lampegan: Catatan Perjalanan Letnan HCC Clockener Brousson

Eliza adalah seorang penulis kebangsaan Amerika Serikat yang juga merupakan seorang fotografer dan ahli geografi. Dia adalah perempuan pertama yang menjadi anggota perkumpulan bergengsi National Geographic Society.

Buku setebal 399 halaman yang diberi judul Java, the Garden of the East tersebut diterbitkan oleh The Century Co, New York, pada tahun 1897. Dalam buku tersebut, Eliza menuliskan perjalanannya melintasi Jawa dengan menaiki kereta api jalur Bogor-Cianjur-Purwakarta-Bandung-Jogjakarta, karena masa itu jalur Priangan harus melalui Purwakarta, dan jalur Cirebon-Kroya belum dibangun.

Hal menarik mengenai catatan Eliza adalah pengamatannya yang jeli. Mengenai kelas-kelas tempat duduk di KA, misalnya Eliza menuliskan perbedaan setiap kelas secara mendetail.

“Kereta kelas satu berayun di atas pegas yang empuk; ada jendela modern yang dibingkai ketat, juga kawat kasa yang dibingkai, sementara di luar terdapat kisi-kisi kayu tebal dan atap ganda, yang melindungi penumpang dari panasnya matahari. Kursi-kursi yang empuk dengan sandaran tangan dialasi dengan bantal berlapis kulit, dinding kereta dihiasi tegel putih-biru yang meniru lukisan Mauve dan Mesdag, dan meja yang dapat diatur, rak bagasi di atas kursi, dan ruang ganti memberikan semua kenyamanan yang diharapkan…

“Kereta kelas dua di Jawa juga menggunakan pegas, tapi ada lebih banyak penumpang dalam kompartemen, dan perlengkapannya lebih sederhana; sementara kereta kelas tiga, di mana para penumpang pribumi berdesak-desakan, memiliki jendela panjang sepanjang kereta, dan bangku-bangku di dalamnya sering kali tidak dilengkapi sandaran punggung.”

Gerbong Kelas I dalam kereta api jaman Kolonial.

Fakta lain yang cukup menarik adalah pujian Eliza tentang infrastruktur dan perjalanan kereta yang mulus, serta alasan mengapa kereta api jaman kolonial yang ternyata hanya mengangkut penumpang di siang hari.

“Para insinyur Belanda membangun dan mengelola jalur kereta api, namun para staf, pekerja di jalur kereta, adalah pribumi atau Tionghoa. Kepakaran mereka terlihat dari bagaimana jalur melintasi pegunungan, dan mantapnya jalur dan jembatan kereta yang melewati rawa-rawa yang berbau…

“Kereta api tidak berjalan pada malam hari, yang seharusnya akan menjadi keunggulan di negeri yang panas ini, alasannya karena semua awak kereta adalah orang pribumi, dan orang Belanda yang berhati-hati tidak mempercayai masinis pribumi dalam gelap gulita.”

Tak seperti Letnan HCC Clockener Brousson, Eliza tak turun di Cianjur. Meski begitu, ternyata para penumpang kereta api tersebut mendapatkan ransum makan yang nikmat di Cianjur.

“Setelah melewati perkebunan-perkebunan besar, terdapat daerah belantara yang luas, di mana para pembangun jalur kereta api harus menciptakan teknik karya yang luar biasa. Dengan ditarik dua lokomotif besar, kereta api ini menanjak menuju stasiun Cianjur, 1600 kaki di atas permintaan laut; dan di sana, jika penumpang telah mengirimkan pesan melalui telegram sebelumnya, ia bisa makan siang dengan nyaman di dalam kompartemen sementara kereta terus berjalan.”

Namun seperti halnya Brousson dan bangsa lain yang datang ke Indonesia, Eliza juga tak lupa memuji keindahan alam Priangan dalam perjalanannya. “Setelah stasiun (Cianjur, red) yang berkelimpahan ini, semua tanda-tanda cocok tanam dan hunian menghilang… Sungai kecil yang mengalir dari bukit-bukit tinggi ini telah mengukir pemandangan yang indah, dan sungai Citarum, yang tampak bergelora sepanjang sebagian jalur, menghilang, memasuki terowongan alami di bawah gunung, dan muncul kembali dalam sebuah jurang, yang terlihat indah dari dalam kereta api yang sedang melintas di atas sebuah jembatan yang tampak ringkih, jauh di atasnya,” tulisnya dengan nada romantis. (edj)

Comments

comments