Sabet Anugerah Tingkat Provinsi, Dodi Rindukan Perhatian dari Pemkab Cianjur

0
270
Dodi Sudarma (kanan depan, berjongkok), berfoto bersama Gubernur Jawa Barat dan para penerima Anugerah Inovasi dalam acara Hari Jadi ke-72 Jawa Barat.

CIANJUR, patas. id – Peringatan Hari Jadi ke -72 Provinsi Jawa Barat pada 19 Agustus 2017 lalu menjadi momen yang membanggakan bagi Dodi Sudarma (36 tahun). Bagaimana tidak, pelatih yang sebelumnya juga atlet pencak silat Kabupaten Cianjur itu mendapatkan anugerah Inovasi Bidang Seni Budaya dan Pariwisata di tingkat Provinsi Jawa Barat yang diserahkan langsung oleh orang nomor satu di Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Dodi dianggap berprestasi karena berhasil membuat sebuah sistem penilaian untuk olahraga dan seni budaya pencak silat. Sistem yang dia buat sejak 2011 tersebutlah yang membuat Dodi akhirnya meraih perhargaan bergensi, uang sebesar Rp 50 juta, dan dengan bangga berdiri bersama para inovator lainnya dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat.

“Alhamdulillah, 19 Agusutus lalu anugerah inovasi itu saya terima, sekaligus saat peringatan Hari Jadi Jawa Barat,” ujar dia saat ditemui, Rabu (23 Agustus 2017).

Sistem penilaian yang dinamai Silat de Score itu pertama kali diciptakan oleh Dodi enam tahun lalu. Sebelumnya, sistem penilaian dalam pertandingan pencak silat masih dilakukan secara manual.

Berbekal bahan seadanya dan modal sendiri, Dodi mengawali inovasinya membuat sistem penilaian tersebut. Setahun setelahnya, dia mencoba untuk menunjukan hasil inovasinya, namun baru sebatas di pertandingan tingkat kabupaten.

“Saat itu saya belum berani menunjukan secara langsung ke publik, bahkan sempat vakum tiga tahun tidak dipertunjukan lagi.” 

Pada 2015, atlet yang sempat meraih prestasi di tingkat Jawa Barat pada 2005 dan 2006 itu kemudian kembali menunjukkan hasil karyanya dengan konsep yang lebih matang. Lambat-laun, Silat de Score pun semakin dikenal dan digunakan untuk perhitungan nilai dalam pertandingan.

Hanya dengan menekan tombol pada alat dengan sistem perekaman yang akurat, tingkat kesalahan dalam penilaian apalagi sampai kecurangan bisa ditekan seminimal mungkin.

“Dengan sistem ini, objektifitas bisa lebih dikedepankan dan meminimalisasi kesalahan. Hal ini juga yang membuat Silat de Score digunakan hampir di setiap pertandingan, baik di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional. Bahkan sempat pada pertandingan di Malaysia juga digunakan.” 

Sayangnya, pelatih silat yang banyak mencetak atlet silat berprestasi hingga kejuaraan nasional itu belum mendapatkan perhatian dari pemerintah daerahnya sendiri. Dodi mengaku bahwa dari Pemkab Cianjur, dirinya hanya mendapat doa dan tanda tangan rekomendasi mengikuti anugerah.

Setelah meraih anugerah yang membawa nama baik Cianjur di tingkat Provinsi Jawa Barat pun, Dodi mengaku belum mendapat penghargaan dari Pemkab Cianjur. Meski begitu, ia tetap merasa bangga atas capaiannya dan bakal terus membawa nama baik Cianjur.

“Cukup sedih juga, ketika inovator lain dapat kadeudeuh atau perhatian dari pemerintah daerahnya usai dapat anugerah ini, dari Pemkab Cianjur belum ada perhatian. Mungkin nanti ada, tapi sekarang memang belum. Meski begitu, saya akan terus berusaha membawa nama baik Cianjur,” ungkap pesilat dari perguruan Benteng Satria itu. (isl)

Comments

comments