Karangtaruna Takokak Ciptakan Incenerator Sampah Sederhana

0
248

CIANJUR, patas.id – Sebanyak 3 incenerator sederhana dibuat Pemerintah Kecamatan dan Karangtaruna Kecamatan Takokak untuk mengurangi sampah di wilayah tersebut. Apalagi wilayah Cianjur selatan tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).

Alat pembakaran yang dibuat secara sederhana itupun diuji coba di lingkungan Pemkab Cianjur, di hadapan Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar, Senin (31 Juli 2017) lalu.

Ketua Karangtaruna Kecamatan Takokak, Asep Alamasedar, mengatakan, alat pembakaran atau incenerator yang dibuat secara sederhana itu merupakan upaya untuk mengurangi volume sampah di wilayah Takokak.

“Awalnya kan ada program Jumsih (Jumat Bersih) di setiap kecamatan. Sayangnya di Cianjur selatan tidak ada TPAS dan mobilisasi. Makanya kami berinisiatif membuat alat pembakaran sampah, meskipun masih secara sederhana dan dibuat oleh Karangtaruna.”

‎Menurutnya, satu alat yang dibuat dengan biaya Rp 7,5 juta itu dapat menampung 1,8-2 meter kubik sampah, baik organik ataupun nonorganik, dengan lama pembakaran satu jam hingga habis.

“Kalau pola pembakarannya yang organik dan nonorganik dipisah, sebab hasil pembakaran sampah organik diolah lagi jadi kompos,” ucapnya.

Menurutnya, tiga buah alat yang sudah dibuat dan disimpan di tiga titik tersebut dapat mengurangi volume sampah di Takokak. Bahkan tidak ada lagi warga yang buang sampah ke sungai.

Meski begitu, dia mengakui alat pembakaran tersebut masih harus dikembangkan untuk mengurangi dampak pencemaran udara. “Pati ada pengembangan lagi, yang sekarang kan bagaimana caranya dengan tidak adanya TPAS, sampah tidak menumpuk atau dibuang kemana saja,” tutur dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Cianjur, Yoni Raleda, mengatakan, masalah sampah memang menjadi tugas berat yang harus ditangi secara serius, apalagi untuk wilayah selatan yang belum terakomodir.

“Saat ini yang sudah terlayani untuk urusan sampah hanya 11 kecamatan dari total 32 kecamatan. Belum secara wilayah administratif, baru secara cakupan wilayah layanan. Tapi ke depan pasti diupayakan terakomodir.”

Yoni mengatakan, pola pengelolaan sampah pun kini mulai diubah, dari yang semula hanya dipusatnya untuk pengumpulan di TPAS, kini diubah menjadi pengelolaan di setiap TPS sehingga volume ke TPAS bisa berkurang.

Beberapa upaya menekan volume sampah yang naik 20 persen dari tahun lalu pun, di antaranya bank Sampang, pengelolaan langsung di wilayah, dan warung sampah.

“Incenerator di Takokak pun bisa jadi solusi, tapi harus diuji dulu, dampak dari pembakaran dan polusinya seberapa besar. Kalau sudah dikembangkan dan dievaluasi untuk mengurangi dampaknya, mungkin bisa diterapkan di setiap wilayah di Cianjur. Tapi jangan sampai, solusi menyelesaikan masalah yang satu malah menimbulkan masalah lain, makanya perlu penelitian yang matang,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments