P2TP2A Cianjur: Tahun Lalu, Sedikitnya Ada 20 Kasus Sodomi Anak

1
249

CIANJUR, patas.id – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur mendorong semua pihak agar memperhatikan anak korban sodomi. Pasalnya, para korban itu bisa menjadi pelaku sodomi atau penyuka sesama jenis di kemudian hari.

Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan kasus P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar, mengatakan bahwa hingga pertengahan 2017 ini, belum ada kasus sodomi yang muncul, mayoritas kasus terhadap anak ialah pelecehan seksual dan kekerasan.

Namun pada 2016, kasus sodomi Cianjur sudah cukup banyak, bahkan dari 70 kasus pelecehan seksual yang terjadi, sediktinya 20 kasus merupakan sodomi.

“Dari seorang pelaku sedikitnya ada tiga korban dari kalangan anak-anak. Dan mereka beresiko untuk menjadi pelaku ke depannya. Jika tidak, mereka akan menjadi gay di kemudian hari.”

Yang mengkhawatirkan, mayoritas orang dengan perilaku seks menyimpang dan pelaku sodomi dapat juga menularkan penyakit berbahaya, yakni HIV/AIDS. Oleh karena itu, Lidya menekankan perlunya antisipasi sedini mungkin. Pasalnya para gay dan pelaku sodomi ialah mereka yang sebelumnya menjadi korban.

“Kebanyakan seperti itu, jika tak ditanggulangi maka pelaku sodomi semakin banyak, begitupun jumlah gay di Cianjur. Dampak akhirnya tentu pada penyebaran HIV/AIDS.”

Menurutnya, peran orangtua juga penting dalam mengantisipasi sodomi dan potensi gay. Korban sodomi bisa dicegah jadi pelaku sodomi dan gay, tergantung bagaimana orangtua memberikan perhatian dan sayang kepada anaknya.

“Anak harus mendapatkan haknya sehingga anak terhindar dari segala bentuk kekerasan. Selain itu, orang tua harus tetap waspada dan meningkatkan pendidikan agama serta fungsi pengawasan terhadap anaknya,” jelas Lidya.

Kekerasan terhadap anak memang belum dapat dihindari baik di ranah domestik maupun di ranah publik karena masih banyak anak-anak yang terpengaruh lingkungan serta kurangnya pengetahuan mengenai ciri-ciri pelaku kekerasan

Lidya memaparkan bahwa anak-anak masih labil serta gampang dipengaruhi. Kasus kekerasan yang masih terus menimpa anak, harus menjadi perhatian bersama agar kasus serupa dapat diminimalisasi.

‎”Momentum hari anak nasional ini jadikan titik untuk memberikan perlindungan pada mereka, dari para predator kekerasan seksual, dan menghindarkan mereka dari perilaku seks menyimpang di kemudian hari,” ucap dia. (isl)‎

Comments

comments