Sejarah Lampegan: Terowongan Kereta Api Tertua di Jawa

0
290

PATAS.ID – Seiring dengan meningkatkanya popularitas situs megalitikum Gunung Padang sebagai destinasi wisata, nama Terowongan Lampegan pun ikut terangkat. Ini dikarenakan tak sedikit wisatawan Gunung Padang yang datang dengan memakai jasa angkutan kereta api jurusan Bogor-Sukabumi-Cianjur (KA Pangrango disambung dengan KA Siliwangi). Mau tak mau, para wisatawan ini harus turun di Halte Lampegan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Padang yang hanya berjarak sekitar 7-8 kilometer dari stasiun.

Namun, masih banyak wisatawan bahkan warga Cianjur yang belum tahu bahwa Lampegan adalah sebuah halte serta terowongan bersejarah yang banyak tercatat dalam berita-berta surat kabar jaman kolonial. Salah seorang wisatawan bernama Pipin dari Jakarta, misalnya, hanya memberikan tinjauan kering dalam situs Trip Advisor mengenai Halte Lampegan.

“Hanya singgah dua menit dalam perjalanan ke Gunung Padang. Tak banyak yang bisa dilihat di sini (Lampegan, red). Hanya terowongan dan stasiun kereta kecil.”

Sebaliknya, seorang wisatawan pemilik akun Cleydog123 asal Brisbane, Australia, malah memberikan tinjauan antusias saat singgah di Lampegan pada Agustus 2015.

“Renovasi sejarah yang menarik, terowongannya berhubungan dengan banyak kisah jaman kolonial.”

Ya, Lampegan memang memiliki nilai historis. Halte dan terowongan kereta yang terletak di Desa Cibokor Kecamatan Campaka ini adalah terowongan tertua di Jawa (dan mungkin di Indonesia), sesuai dengan tahun pembuatan (1879-1882) yang tertera pada bagian atas terowongan. Sebuah artikel di surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie tanggal 25 November 1915 memastikan hal ini. Dalam artikel berjudul “Sepuluh Terowongan di Jawa” tersebut dinyatakan:

“Dengan dibangunnya jalur Cirebon-Kroya dan Banjar-Parigi, jumlah terowongan di Jawa jadi berlipat, dari 5 menjadi 10. Terowongan tertua adalah Lampegan (pemberhentian menuju Sukabumi) yang tebing-tebingnya merupakan bagian dari Perkebunan Teh Gunung Kencana dan tanah pertanian Lampegan. Yang paling terkenal adalah terowongan Maswati dan Terowongan Sasaksate. Yang paling indah adalah Terowongan Iju di Gombong menerobos lapisan-lapisan lembah. Di dekatnya terdapat jalan kecil dimana penduduk Gombong bisa dengan nyaman bersepeda. Seharusnya terowongan ini tak usah dibuat. Yang paling mahal perawatannya adalah Terowongan Mrawan dekat Terowongan Garahan di jalur Kalisat-Banyuwangi. Longsor yang terjadi pada 1910 menyumbat Terowongan Mrawan gara-gara kesalahan teknis membuat pemerintah harus mengeluarkan biaya renovasi hampir setengah juta (gulden, red). Sementara itu Terowongan Gambarsari di Kalijeruk (jalur Cirebon-Kroya) serta Terowongan Wilhelmina, Terowongan Pangeran Hendrik, dan  Terowongan Juliana (jalur Banjar-Parigi) hingga kini belum rampung dibuat.”

Selain sebagai terowongan tertua di Indonesia, Lampegan juga memiliki banyak kisah menarik lainnya yang bernilai historis, misalnya tentang konstruksinya, mitos Nyi Sadea, simpang-siur mengenai asal-usul nama Lampegan, artikel perjalanan bangsa Belanda di Cianjur, serta peranan Lampegan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. (edj)

BACA: Sejarah Lampegan: Proyek Konstruksi Jalur KA Buitenzorg-Preanger

Comments

comments