Fanoos, Tradisi Ramadhan Mesir yang Unik

0
219

PATAS.ID – Menyalakan fanoos atau lentera adalah salah satu tradisi Ramadhan di Mesir. Berdasar asal-usul kata, fanoos atau fawanees (jamak, red) berasal dari bahasa Yunani fanaos yang artinya lampu atau cahaya.

Fanoos adalah lentera yang terbuat dari rangka metal (besi, tembaga atau kuningan) yang dihiasi dengan kaca warna-warni bermotif geometris, sesuai dengan tradisi Islam yang melarang penggambaran makhluk hidup. Larangan itu justru membuat seniman Islami menjadi kreatif. Aneka motif geometris indah lalu tercipta dalam beragam karya, mulai dekorasi mesjid hingga dekorasi lentera.

Di jaman dahulu, fanoos dinyalakan dengan lilin. Namun seiring perkembangan teknologi, fanoos saat ini bisa dinyalakan dengan baterai dan listrik.

Sejarah Fanoos

Menurut Dr Nasif Kayed, Direktur Pengelolaan di Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding, Mesir, tradisi ini bermula pada 358 H atau kurang lebih 1.000 tahun lalu di jaman Dinasti Fatimid. Saat itu, Kalifah Al-Muʿizz Lidinallah dalam perjalanannya pada bulan Ramadhan melewati wilayah Pegunungan Mokattam. Di sepanjang perjalanan itu, anak-anak kecil dan warga yang sangat mencintai sang Kalifah, menyalakan lentera dan bernyanyi tentang keagungan Ramadhan.

Pada jaman dahulu, orang-orang hanya menyalakan fanoos untuk perjalanan malam menuju mesjid. Namun saat Kalifah datang, orang-orang sengaja menyalakan fanoos sebagai sambutan. Sejak saat itulah, tutur Nasif, setiap Ramadhan tiba, orang-orang Mesir menyalakan fanoos sebagai bagian dari tradisi mereka.

Namun versi lain mengungkapkan bahwa pada jaman dahulu di Kairo, fanoos biasanya hanya dipakai untuk menerangi jalan kalifah-kalifah saat mengontrol wilayah kekuasaan mereka, seperti kita membawa obor. Namun, pada jaman Dinasti Fatimid, di bawah pemerintahan Kalifah Al-Hakim (996-1021 M), muncul undang-undang yang memerintahkan pemilik toko dan rumah untuk membersihkan jalan dan memasang fanoos di depan rumah mereka sepanjang malam.

Pemasangan fanoos dimaksudkan untuk membantu pejalan kaki agar tak tersandung atau jatuh. Selain itu, Kalifah memerintahkan agar perempuan tidak meninggalkan rumah saat malam kecuali ditemani pembawa lentera.

“Pada masa itu di bulan Ramadhan, perempuan biasanya sering pergi ke luar rumah untuk mengantarkan makanan sahur bagi suami-suami dan anggota keluarga laki-laki yang beritikaf di mesjid. Dalam perjalanan pulang-pergi dari rumah ke mesjid tersebut, mereka ditemani para pelayan yang membawa fanoos yang dibuat dari kuningan.”

Selain perempuan, polisi juga diperintahkan Al-Hakim untuk membawa fanoos saat berpatroli. Hukuman diberikan bagi para pelanggar. Sejak saat itulah, kerajinan fanoos berkembang pesat di Mesir.

Jatuh Bangun Industri Fanoos

Seperti halnya kerajinan tradisional lainnya, awalnya para pengrajin fanoos hidup berkecukupan. Namun seiring perkembangan jaman, industri kerajinan yang menjadi ciri khas Mesir ini kemudian goyah oleh globalisasi.

Massoud Shouman, Pimpinan General Organization of Cultural Palaces, sebuah divisi dalam Kementrian Kebudayaan Mesir, mengungkapkan bahwa fanoos yang awalnya merupakan peralatan rumah tangga biasa telah berkembang menjadi bagian dari tradisi dan budaya Mesir yang dilindungi keberadaannya.

Namun, pada tahun 1970-an, Anwar Sadat membuat Kebijakan Buka Pintu untuk berkembangnya ekspor-impor. Kebijakan yang tujuannya menumbuhkan ekonomi dan membuka investasi ini mengakibatkan membanjirnya produk-produk massal ke Mesir, termasuk fanoos buatan China yang harganya jauh lebih murah karena terbuat dari plastik. Fanoos buatan China bahkan bisa mengeluarkan bunyi dan berkedip-kedip.

“Produk-produk buatan China memang cenderung lebih menarik dan murah meskipun tak tahan lama. Tujuannya tentu saja, agar kita membeli lagi tahun depan.”

Akibat membanjirnya fanoos tiruan tersebut, pengrajin fanoos Mesir kelabakan. Salah seorang pemilik perusahaan pengrajin fanoos tertua di Kairo, Sayeda Zeinab, menyatakan meskipun fanoos buatan China tak ubahnya seperti mainan, bukan lentera sungguhan, namun banyak rumah tangga yang membelinya karena murah, terutama di kalangan menengah ke bawah.

Untunglah pemerintah Mesir cepat tanggap. Pada bukan Juli 2015 lalu, pemerintah meluncurkan program Creative Egypt yang bertujuan melindungi seniman dan pengrajin lokal. Menteri Perdagangan dan Industri Mesir, Mounir Fakhry Abdel Nour, memerintahkan larangan impor bagi produk bertema Mesir.

Selain itu, pemerintah Mesir juga memberikan pelatihan dan promosi gratis bagi kurang lebih 16 ribu seniman dan pengrajin lokal. Salah satu berkah dari pengalaman membanjirnya produk China selama puluhan tahun lalu adalah berkembangnya pangsa pasar yang eksklusif. Fanoos asli buatan Mesir kini dikenal sebagai lentera yang paling banyak dibeli selama Ramadhan, tidak hanya di Mesir namun juga di negara-negara muslim lainnya di seluruh dunia. (cho)

Comments

comments