Usia 93 Tahun Masih Jagjag, Ini Resep Abah Udin

0
184

CIANJUR, patas.id – Udin Abidin kini memasuki umur 93 tahun. Namun di umurnya yang hampir seabad tersebut kakek enam cucu dan seorang cicit tersebut masih tampak bugar. Bahkan dia masih mampu menggarap sawah, mengajar ngaji, hingga bepergian ke luar kota sendirian.

Warga Kampung Salakopi RT 01/13 Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur yang biasa disapa Abah Udin itu memang diberi hal yang lebih dari Sang Pencipta dimana umurnya dipanjangkan hingga mendekati satu abad. Tidak banyak yang punya umur panjang, bahkan rata-rata umur penduduk CIanjur hanya mencapai 65 tahun.

Abah Udin yang ditemui di rumahnya, mengungkapkan, orangtuanya merupakan cucu dari salah satu ulama di Garut. Namun saat masa penjajahan Belanda, ayahnya pergi ke Cianjur untuk menjadi buruh kebun teh di Cianjur selatan.

Lama bekerja di Cianjur, ayahnya pun bertemu dengan salah seorang ronggeng di Cianjur yang kemudian jadi ibu Udin. Setelah menikah, mereka pun tinggal di Pamoyanan dan melahirkan Udin sebagai anak pertama pada 14 Juli 1924 dan ketiga adiknya.

“Abah anak pertama, ada tiga adik lagi. Tapi yang masih hidup tinggal yang bungsu sama Abah, yang dua lainnya sudah meninggal dunia.”

Memasuki usia dewasa, Abah Udin memilih bergabung dengan militer untuk mendukung perjuangan meraih kemerdekaan. Selama perang, Udin berhasil selamat hingga akhirnya Indonesia meraih kemerdekaan.

Namun usai merdeka, organisasinya dibubarkan dan Abah Udin mulai mencari profesi lain untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Dia bersama temannya pun mencoba peruntungan sebagai buruh bangunan, bengkel, dan kegiatan lainnya di jalanan. Ilmu yang dia dapat dari sekolah rakyat dan sekolah teknik bangunan diterapkan untuk profesinya tersebut.

Di usia 23 tahun, Udin pun menikah dengan Iah Syamsiah yang kala itu berumur 14 tahun. Dengan profesi sebagai buruh bangunan dan bengkel, Udin berhasil membangun rumah tangga dan memiliki enam anak, enam cucu, dan 1 cicit.

“Anak ada enam, tapi yang satu meninggal dunia. Jadi sekarang ada lima yang masih hidup. Paling besar umurnya 49 tahun,” kata dia.

Tidak disangka umurnya begitu panjang hingga kini mencapai 93 tahun. Istrinya yang berbeda 9 tahun pun juga berumur panjang. Meski sudah meninggal tiga tahun lalu, diperkirakan umurnya mencapai 81 tahun. “Istri meninggal 3 tahun lalu,” kata dia.

Meski sudah kehilangan sang istri, Aban Udin masih bisa terhibur dengan keberadaan cucu dan cicitnya yang mulai beranjak dewasa.

Di luar kisahnya tersebut, siapa yang menyangkap Abah udin masih mampu beraktivitas layaknya beruumur lebih muda. Setiap hari, mulai dari pukul 05.30 WIB sampai 11.00 WIB, Abah Udin masih bisa pergi ke sawah untuk menggarap lahan milik majikannya. Hal itu juga ia lakukan saat Ramadan.

“Tadi juga baru pulang dari sawah. Kalau tidak sakit, ya setiap hari pasti ke sawah. Sawahnya punya orang lain, dunungan Abah.”

Tidak hanya itu, Abah Udin juga sering menjadi imam di masjid di dekat hotel di Jalan Dr Muwardi. “Kalau Ramadan pasti ke sana, buat ngimamin taraweh,” katanya.

Memasuki sore hari, aktivitas Abah Udin dilakukan bersama dua puluh lebih anak-anak di lingkungannya. Bukan untuk bermain, melainkan mengajar mereka mengaji. Ya, Abah Udin memang dipercaya oleh orangtua di lingkungannya agar anak mereka mengaji. “Alhamdulillah di sini saja ada 22 anak yang Abah ajar ngaji,” kata dia.

Di antara aktivitasnya tersebut, ada lagi yang membuat Abah Udin tampak diberi karunia yang lebih. Pasalnya, ia masih mampu pulang pergi dari Cianjur ke Bandung, Tangerang, dan kota lain dimana temannya tinggal.

Meskipun sering dilarang, namun Abah Udin kerap sembunyi-sembunyi pergi. Di saat orang lanjut usia lainnya sudah sulit mengingat tempat dan mungkin tersasar kalau pergi ke luar kota, Abah Udin mampu pulang sendiri ke rumahnya dan mengingat betul lokasi tujuannya. “Dua bulan sekali Abah ke Bandung. Perginya sembunyi-sembunyi. Kalau bilang ke anak mah pasti nggak boleh,” tuturnya.

Tidak ada resep khusus yang dilakukan Abah Udin agar bisa panjang umur. Namun ada beberapa hal yang dia pegang selama ini, mulai dari larangan berselingkuh, membayar upah tepat waktu pada orang yang kita pekerjakan, dan melaksanakan ibadah wajib tepat waktu.

“Abah mah ke siapa saja juga cuma ngingetin, lamun lacur tong ka pamajikan batur (jangan selingkuh), lamun ngagawekeun jalema leutik kudu dibayar (bayar upah orang kecil yang dipekerjakan), sareng omat tong ninggalkeun salat (jangan pernah meninggalkan salat),” tutupnya.(isl)

Comments

comments