Suasana dan Makanan Khas Ramadhan di Cianjur Tahun 1950-an

0
255

CIANJUR, patas.id – Selain dengan menelusuri dokumen yang tercatat, sejarah bisa digali salah satunya dengan mendengarkan kisah-kisah pelaku sejarah yang hidup pada jamannya, seperti orang tua maupun pinisepuh kita.

Pepet Djohar (71 tahun), misalnya, dengan senang hati membagikan kenangan masa kecilnya pada tahun 1950-an di Cianjur, terutama pada bulan Ramadhan serta menjelang Idul Fitri. Di masa itu, tutur Pepet, suasana Ramadhan di Cianjur masih sangat terasa kental dengan tradisi keagamaan.  Setiap Subuh, misalnya, akan terdengar suara bakiak di jalanan.

“Orang-orang dulu memakai bakiak atau gamparan, sandal kayu. Jadi waktu kecil, setiap Subuh saya bisa mendengar suara bakiak tingkolotrak di jalan, lewat di depan rumah. Itu adalah suara warga yang beramai-ramai hendak sholat berjamaah di Mesjid Agung.”

Pepet yang tinggal di Jalan Moh. Ali No. 64 Solokpandan, juga berkisah bahwa pada tahun 1950-an, waktu Maghrib atau berbuka bisa diketahui dengan melihat fenomena alam, tanpa harus mendengar suara alarm, suara beduk, atau suara adzan. Pasalnya, sabubuhan atau sekawanan kelelawar kecil akan selalu terbang mengangkasa setiap Maghrib menjelang. Ribuan kelelawar hitam itu berasal dari pepohonan yang berada di belakang Mapolres Cianjur di Jalan  Suroso (sebelum pindah).

“Saya dan teman-teman selalu bermain menjelang Maghrib. Nah, kalau kelelawar itu sudah pada terbang, berarti sudah waktunya pulang ke rumah karena sebentar lagi pasti adzan Maghrib, waktunya berbuka puasa.”

Selain suasana, hal yang dikenang Pepet adalah makanan khas Cianjur yang hanya ada di bulan Ramadhan. Sebagai orang yang berasal dari kalangan menak –Pepet adalah buyut RAA Prawiradiredja, Dalem Cianjur yang memerintah pada 1862-1910, Pepet mengungkapkan bahwa banyak makanan yang dirindukannya setiap Ramadhan,

Makanan takjil khas Ramadhan lain di keluarganya adalah rangesing yang terbuat dari pisang ambon, ancemon yaitu singkong yang diguyur oleh oncom, serta sarikaya yang menurut Pepet cukup sulit dibuat karena harus punya kemahiran membuat peueut atau sari gula merah.

Selain hidangan yang manis-manis, ada juga makanan khas Cianjur lain yang sering tersaji saat Ramadhan, yaitu petis cuka lahang. Di Cianjur, petis adalah istilah yang digunakan untuk rujak. Dalam petis cuka lahang, meskipun jenis buah-buahan yang dicampurkan hampir sama seperti buah-buahan pada rujak umumnya, menurut Pepet ada sesuatu yang unik pada petis pada tahun 1950-an, yaitu kehadiran “engkol bondu”.

“Engkol bondu itu sayur kol yang digulung lalu diikat dengan awi tali sehingga menyerupai bondu. Selain itu, dalam petis cuka lahang, ubi merahnya selalu disugu atau diserut tipis.”

Untuk hidangan berat saat Idul Fitri, Pepet mengenang sop empul, yaitu sop kental yang terbuat dari campuran kacang merah dan daging. Hidangan khas Belanda ini menurut Pepet dimakan dengan cara dicocol roti. Berdasarkan penelusuran patas.id, yang dimaksud dengan sop empul adalah bruinebonensoep atau di lidah orang Indonesia sering disebut dengan nama brenebon.

BACA: Resep Membuat Sop Empul atau Bruinebonensoep

Selain sop empul, salah satu hidangan khas Idup Fitri adalah beka, yaitu ikan asin peda yang dimasak dengan peuyeum atau tape singkong. Proses pembuatan beka cukup menyita waktu, yakni enam hari. Karenanya Pepet mengatakan bahwa kuliner khas yang merupakan kekayaan tradisi Cianjur itu sudah jarang disajikan di lingkungan keluarga besarnya. Sayang sekali, ya? (edj)

 

Comments

comments