Overload, Jumlah Penghuni Lapas Cianjur Tak Sesuai Standar Ideal HAM

0
238

CIANJUR, patas.id – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur, Yunianto, mengungkapkan bahwa Lapas Cianjur telah melebihi kapasitas semestinya. ‎Penuhnya lapas dengan jumlah narapidana yang mencapai 700 orang itu dinilai tak sebanding dengan jumlah petugas di Lapas.

‎Saat ini, jumlah penghuni Lapas Cianjur adalah sebanyak 755 narapidana atau warga binaan, padahal berdasarkan perhitungan lama, jumlah maksimal jumlah penghuni sebatas 450 orang. Bahkan, berdasarkan perhitungan terbaru, jumlah maksimal penghuni lapas harus di bawah 400 orang.

“Memang diakui, Lapas Cianjur ini overload. Berdasarkan aturan HAM (Hak Asasi Manusia), ada hitungan luas minimal untuk kenyamanan napi, tapi karena keterbatasan tempat ‎jadi dioptimalkan saja. Namun masih batas wajar.”

Status Lapas yang masih Kelas B membuat pembangunan belum bisa dilakukan. “Kalau sudah naik jadi Kelas A nanti ada penambahan bangunan. Sudah diusulkan, namun masih proses,” ujarnya. Sementara jumlah napi yang mencapai 700 orang lebih, tidak hanya berpengaruh pada kuota maksimal, namun juga pada keamanan di Lapas Cianjur. Apalagi, jumlah petugasnya jauh tidak sebanding dengan banyaknya napi.

“Petugas mulai dari sipir hingga administrasi, totalnya hanya 65 orang. Mereka harus mengawasi dan membina 755 narapidana, sangat jauh tidak sebanding.”

Dikhawatirkan, jika pengawasan lemah, ada penyelundupan narkoba dan pengiriman barang-barang lainnya yang dilarang ke dalam Lapas. Beberapa waktu lalu, Yunianto mengungkapkan telah menggagalkan upaya penyelundupan narkoba dalam kotak nasi.

“Ditemukan ada narkoba jenis sabu dalam kotak nasi untuk napi. Kami segera berkoordinasi dengan BNNK dan Polres Cianjur atas temuan itu. Makanya, sekarang petugas pemeriksa pengunjung ditambah, dari dua orang jadi tiga orang. Razia handphone juga rutin dilakukan agar tak ada kontak dengan di luar Lapas, sebab kami khawatir mereka mengendalikan tindak pidana dari dalam Lapas.”

Meski begitu, pihaknya terus berupaya meningkatkan keamanan dengan jumlah petugas yang terbatas tersebut, salah satunya untuk pemeriksaan pengunjung atau keluarga napi yang datang.

Di sisi lain, Yunianto berharap para napi bisa berperilaku lebih‎ baik dengan pembinaan secara keagamaan. Tidak hanya bagi napi beragama islam, pembinaan khusus juga diberikan pada napi non muslim.

“Pembinaan di sini jadi percontohan, semoga meski sudah overload dan jumlah napinya tak sebanding, tidak ada kerusuhan dan pertikaian setelah dibina secara keagamaan,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments