Kondisi Tanah Semakin Padat, Gunung Padang Dihiasi Cileuncang

0
204

CIANJUR, patas.id – Sebuah foto yang diunggah dalam akun Facebook arkeolog dan peneliti dari Balai Arkeologi Bandung, Dr. Lutfi Yondri M.Hum, mengundang keprihatinan. Dalam foto tersebut, sebagian teras Gunung Padang nampak digenangi cileuncang atau kubangan dangkal air hujan di sana-sini.

Saat dihubungi patas.id, Lutfi yang pada tahun 2016 lalu pernah membuat disertasi berjudul “Situs Gunung Padang dalam Konteks Kebudayaan Manusia dan Lingkungan”, mengungkapkan bahwa foto yang didokumentasikannya pada Minggu (2 April 2017) lalu tersebut memperlihatkan satu dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi objek wisata Gunung Padang.

“Salah satu diantara permasalahan itu adalah masalah drainase. Air hujan yang turun tidak mampu lagi diserap oleh tanah yang semakin padat seiring dengan meningkatnya arus kunjungan ke situs Gunung Padang.”

Terkait kondisi dan peningkatan jumlah pengunjung ke Gunung Padang, Lutfi sendiri mengaku kaget. “Beberapa tahun belakangan setelah 2012, seiring peningkatan arus kunjungan, (kondisi ini, red) sudah terlihat. Tapi saya cukup kaget dengan yang terjadi sekarang,” ujarnya.

Jika tetap dibiarkan dan tak diatasi, lanjutnya, genangan air hujan tersebut bisa menyebabkan erosi dan menimbulkan kerusakan pada struktur teras.

“Hal itu ini antara lain dapat dilihat mulai bergeraknya susunan dinding batuan di sisi timur laut Teras 2.”

Saat ditanya mengenai langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, Lutfi menyatakan bahwa dengan telah dibentiknya Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Situs Gunung Padang oleh Pemkab Cianjur, seharusnya berbagai permasalahan yg terjadi di situs Gunung Padang bisa lebih cepat teratasi.

BACA: Koordinator Juru Pelihara Gunung Padang Keluhkan Perilaku Pengunjung

Lebih jauh, Lutfi mengaku setuju bahwa Pemkab Cianjur harus membangun zona wisata penunjang di sekitar wilayah Gunung Padang agar pengunjung tidak seluruhnya tumplek di lokasi situs megalitikum yang terletak di Desa Karyamuti Kecampatan Campaka tersebut.

“Sangat setuju. Kajian tentang itu sudah kami lakukan akhir tahun 2016 lalu lewat Bidang Pariwisata Disparbud Jabar dan juga sudah dipresentasikan di Cianjur,” pungkasnya. (cho)

Comments

comments