Premier League Melawan Online Streaming

0
188

INGGRIS, patas.id – English Premier League (EPL) secara resmi meluncurkan pernyataan melawan streaming ilegal yang dianggap bisa merugikan bisnis mereka.

Awalnya, streaming pertandingan bola melalui internet menjadi solusi bagi suporter sepak bola yang ingin menyaksikan klub kesayangannya bermain namun tak memiliki akses menonton karena TV lokal tidak menayangkan pertandingan dimaksud. Dengan sedikit memanfaatkan ilmu digital, para suporter kemudian memanfaatkan bocoran dari perusahaan pemilik hak siar Premier League (seperti Sky) untuk menikmati pertandingan dengan hanya membayar kuota internet.

Namun lama-kelamaan, streaming pertandingan bola menjadi hal yang umum dilakukan. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul perangkat-perangkat pembajakan seperti XBMC atau “Kodi box” yang bisa menangkap siaran langsung apapun, cukup dengan harga $40-$120 atau sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Sejak diluncurkan, Kodi dan perangkat sejenisnya telah terjual sebanyak ratusan ribu buah. Bayangkan jika satu perangkat dinikmati beramai-ramai. Tak heran jika klub-klub Premier League yang mengandalkan pemasukan dari kedatangan penonton ke stadion dan hak siar eksklusif merasa dirugikan.

Aksi melawan streaming online yang dilakukan Premier League sejak awal tahun 2017 dimulai dengan kerja sama dengan satuan kepolisian Inggris dan luar negeri serta kerja sama dengan pihak Internet Service Providers (ISP) dengan alasan menonton streaming online merupakan pelanggaran atas hak atas kekayaan intelektual, demikian disampaikan juru bicara EPL, , Jum’at (31 Maret 2017).

“Premier League sekarang bergabung dengan kampanye anti pembajakan untuk melindungi hak cipta. Seperti halnya industri olah raga dan industri kreatif lainnya, tayangan kami bergantung pada pasar dan hak siar dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Dengan begini, klub-klub sepakbola bisa berinvestasi pada pemain berbakat, membangun stadion, mendukung sepakbola Inggris, mengembangkan sekolah dan komunitas di seluruh negeri. Ini adalah hal-hal yang dinikmati fans serta berguna bagi masyarakat.”

Korban pertama kampanye jatuh pada Februari lalu, saat seorang lelaki dari Hartlepool (Inggris) dikenai denda £250 ribu atau sekitar Rp 4,1 miliar karena menjual perangkat streaming ke pub dan individu. Di Malaga (Spanyol), pemerintah menyita perangkat teknologi milik ISP Y Internet karena menyediakan layanan streaming. Di Belfast (Irlandia Utara), TV dan komputer dua pengusaha juga dilucuti karena memfasilitasi streaming online. Bulan ini, Hakim Richard Arnold memberi izin pada empat ISP terbesar di Inggris untuk memblok akses streaming online.

 

Sementara itu pihak Kodi menyatakan bahwa keterlibatan pihak ketiga dalam aplikasi mereka merupakan bagian dari kultur “open source”. Mereka juga memaparkan bahwa melawan pembajakan sekarang ini merupakan hal yang sulit dan telah terlambat dilakukan. Hal senada diungkapkan oleh Nick Matthew, Kepala Penyelidikan di Federation Against Copyright Theft (FACT) yang bekerja dalam kapanye anti pembajakan Premier League.

“Tidak ada jumlah pasti berapa pengguna streaming online. Namun jika melihat betapa gampangnya orang-orang memanfaatkan perangkat dan add-ons, juga melihat banyaknya perangkat sejenis yang beredar di pasaran, tidak diragukan lagi bahwa banyak sekali orang yang menggunakan jasa streaming online untuk menonton. Perangkat itu telah jadi bagian dari hidup mereka,” ujarnya. (cho)

Comments

comments