Pengelolaan Limbah Medis Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI

0
886
Abstract of Doctors Bloody Surgical Gloves

PATAS.ID – Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, disebutkan bahwa setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan limbah dan mengawasi penggunaan bahan kimia dan beracun, termasuk limbah medis padat, limbah non medis padat, serta limbah cair.

Yang dimaksud dengan limbah medis padat terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. Limbah padat non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit yang berasal dari perkantoran, taman, halaman, dan lain sebagainya yang dapat dimanfaatkan apabila ada teknologinya. Sedangkan limbah air adalah semua buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radioaktif yang berbahaya.

Menurut Keputusan tersebut, setiap limbah harus dimasukkan ke dalam wadah dengan label limbah medis sesuai kategorinya, yakni radiaktif (warna plastik merah), limbah infeksius (kantong plastik kuning), limbah infeksius, patologi dan anatomi (kantong plastik kuning), limbah sitotoksis (kantong plastik ungu), serta limbah kimia dan farmasi (kantong plastik cokelat). setiap limbah medis harus dikemas, disimpan, dibuang dalam keadaan terikat kuat dan tidak bocor.

Untuk masalah penyimpanan, sesuai iklim Indonesia yang tropis, setiap limbah medis hanya boleh disimpan maksimal selama 48 jam pada musim hujan dan 24 jam saat musim kemarau. Bila di tempat penyimpanan terlihat lalat lebih dari 20 ekor, harus dilakukan pengendalian.

Urusan pembuangan pun diatur. Menurut Keputusan tersebut, teknologi pengolahan atau pembuangan limbah medis padat disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dan jenis limbah medis yang ada dengan pemanasan menggunakan otoklaf atau pembakaran menggunakan insinerator. Rumah sakit yang tidak memiliki insinerator sendiri bisa nebeng pengelolaan limbah medisnya pada rumah sakit lain.

Sistem pembuangan dan pengolahan limbah rumah sakit merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh manajemen rumah sakit. Dilansir dari website Departemen Kesehatan RI, menurut Dokter Supriyantoro, Sp.P, MARS yang pernah menjabat sebagai  Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan (BUK), ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan limbah medis.

“Yang harus diperhatikan adalah jangan sampai sampah medis tercecer, apalagi dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,  bahkan sampai berdampak pada penyakit-penyakit yang dapat membahayakan masyarakat. Limbah rumah sakit berbeda dengan limbah rumah tangga. Sebab limbah rumah sakit yang tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan penyakit.”

Informasi lebih lengkap mengenai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dapat diunduh di SINI. (cho)

Comments

comments