Perusahaan Besar Ramai-ramai Tarik Iklan dari YouTube

0
268

PATAS.ID – Terkait konten video yang tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan, beberapa perusahaan terkemuka dunia seperti 02, BBC, Domino Pizza, Transport For London, serta L’Oreal menghentikan kerja sama mereka dengan YouTube bulan ini.

Penghentian kerja sama tersebut mengakibatkan saham Alphabet, perusahaan induk YouTube, anjlok hingga 3% menjadi $839,65 per lembar sejak minggu lalu. Anjlok saham nampaknya akan terus terjadi menyusul penghentian kerja sama dari perusahaan raksasa lainnya yakni AT&T, Verizon, dan Volkswagen minggu lalu, serta PepsiCo, Walmart and Starbucks, Jum’at (24 Maret 2017) kemarin.

Penghentian kerja sama tersebut dilakukan setelah YouTube yang dikelola oleh Google, ketahuan menyimpan iklan perusahaan-perusahaan tersebut dalam konten video yang dianggap ekstrim dan rasis, dengan kata lain mendukung terorisme dan anti Yahudi.

Penarikan kerja sama iklan tersebut tentu mempengaruhi pemiliki konten. Matan Uziel, pemilik channel Real Women dan Real Stories yang biasa menayangkan konten video berisi wawancara perempuan dengan topik perdagangan manusia, pelecehan, dan rasisme, mengaku kontennya tak lagi memiliki pengiklan sehingga anggaran untuk memproduksi wawancara jadi berkurang.

“Ini mimpi buruk. Aku tak percaya pada YouTube lagi. Padahal YouTube memiliki CEO Susan Wojcicki yang merupakan seorang feminis yang selalu mempromosikan kesetaraan gender.”

Seperti diketahui, YouTube memperbolehkan pemilik channel memonetasi atau mendapatkan uang dari video mereka dengan cara memasang iklan di channel mereka. Iklan tersebut didapat dari kerja sama YouTube dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dunia. Pemilik konten akan dibayar oleh YouTube jika penonton mengklik iklan atau bersedia menyaksikan tayangan iklan hingga selesai.

Saat ini, Google menggunakan penyaringan otomatis dan manual dalam menyensor konten video. Video yang dianggap tidak layak dipasangi iklan atau dimonetasi adalah video yang dianggap porno, berisi aksi kekerasan dan berbahasa kasar, dianggap pro narkoba, serta yang menayangkan kekejaman perang, konflik politik dan bencana alam.

Namun, tentu saja, channel-channel dalam TouTube bersifat dinamis. Begitu permintaan monetasi diterima, pemilik konten bisa mengunggah video yang mungkin saja bertentangan dengan kebijakan Google atau perusahaan pengiklan. Google sendiri mengaku kewalahan menyensor setiap konten video. Saat ini, setiap menitnya, total durasi 400 jam video YouTube diunggah oleh para pemilik channel.

YouTube/Google yang tahun 2016 lalu mendapatkan keuntungan $5,6 miliar dari kerja sama dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dunia mengaku akan berusaha memperbaiki kinerja mereka. “Kami juga mengubah kebijakan pemasangan iklan kami,” ujar juru bicara mereka. (cho)

Comments

comments