Hadapi Perilaku Internet Tak Sehat, Campur Tangan Pemerintah Dibutuhkan

0
159

CIANJUR, patas.id – Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Cianjur menilai penggunaan internet di Indonesia, termasuk Cianjur, terus bergeser ke arah negatif. Kurangnya pantauan orangtua dan antisipasi pemerintah membuat internet yang bisa menunjang bisnis dan sosial malah terus disalahgunakan.

Seperti yang diketahui, belakangan ini muncul pemberitaan terkait grup di Facebook yang mewadahi pelaku pedofil. Tidak hanya itu, dua hari terakhir ramai video live streaming warga Jakarta yang gantung diri akibat ditinggal istrinya.

Anggota Relawan TIK Kabupaten Cianjur, Mario Devys, mengatakan, munculnya grup dan konten tersebut menandakan bahwa pengguna media sosial ataupun internet semakin cenderung ke arah negatif, meskipun pada dasarnya internet bisa memfasilitasi komunikasi, bisnis, dan hal positif lainnya.

“Internet atau media sosial itu kan alat. Alat itu tergantung pada penggunanya, kalau penggunanya perilaku negatif ya hasilnya juga negatif. Dan itu banyak terjadi sekarang ini, membuktikan juga karakter pengguna internet jadi tidak baik.”

Menurutnya, konten-konten buruk tersebut dapat mempengaruhi pengguna internet lainnya. Mereka akan meniru apa yang dilihat, terlebih ketika emosi sedang tidak stabil.

“Ini yang jadi PR (Pekerjaan Rumah), bagaimana mengantisipasi dengan penguatan pemahaman agar tidak melakukan hal serupa. Jangan sampai nanti jadi semakin banyak pelaku pedofil atau bunuh diri dengan diunggah ke media sosial Facebook,” tuturnya.

Mario mengungkapkan, di Indonesia sedikitnya terdapat 132 juta pengguna internet, 48 persennya perempuan dan 51,8 persennya laki-laki. Pulau Jawa pun menduduki peringkat teratas dengan 65 persen pengguna internet se-Indonesia.

Dilihat dari rentang usia, lanjut dia 75,8 persen pengguna internet ialah usia 10 sampai 34 tahun, selebihnya dari 35 sampai 55 tahun. Mayoritas dari pengguna internet pun ialah pelajar.

“Sayangnya usia rawan dan terbanyak yakni 10 sampai 24 tahun, pengawasan orang tuanya sangat minim. Hanya 20 persen pengguna internet di usia labil yang diawasi orangtua. Akibatnya, konten negatif sangat mempengaruhi pola pikir, jika terus dimasuki konten negatif maka tidak dipungkiri mereka akan mengikuti hal yang serupa dengan apa yang dilihatnya di internet, khususnya media sosial.”

Padahal, menurut Mario, internet bisa menjadi ajang untuk menampilkan bakat, berbisnis, dan belajar. “Sebenarnya banyak yang masih berperilaku positif saat menggunakan internet. Tapi karena sering bermunculan konten negatif, dikhawatirkan banyak yang terpengaruhi,” jelasnya.

BACA: Bagaimana Mengawasi Penggunaan Sosmed Anak? Ini 12 Tips yang Berguna!

Pemerintah, tambah dia, harus melakukan langkah antisipasi, mulai dari pemblokiran situs yang tidak layak serta memberikan pendidikan atau sosialisasi tentang internet sehat. Peran serta pemerintah sangat dibutuhkan karena langkah sosialisasi internet sehat yang dilakukan relawan sangat terbatas.

“Sebenarnya ada relawan TIK yang melakukan sosialisasi internet sehat. Namun relawan kan terbatas langkahnya, maka dari itu pemerintah melalu Dinas Pendidikan yang mesti mendorong penggunaan internet yang sehat, supaya tidak ada lagi grup pedofil dan kasus bunuh diri dengan ditayangkan secara langsung di Facebook,” tandasnya. (isl)

Comments

comments