Bagaimana Mengawasi Penggunaan Medsos Anak? Ini 12 Tips yang Berguna!

0
144
Shocked and surprised boy on the internet with laptop computer

PATAS.ID – Media sosial semakin marak. Sebuah studi yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) menunjukkan bahwa sebanyak 22% remaja mengecek akun media sosialnya lebih dari 10 kali sehari, dan 75% di antara mereka melakukannya melalui ponsel.

Namun patut dicatat bahwa selain mempermudah berkomunikasi, sosial media juga memiliki banyak potensi buruk mulai cyber bully, depresi (karena di-unfriend, di-block, atau tidak di-follow), mudah terhasut konten negatif, jadi korban pedofilia, atau terlibat sexting/videosex.

Seperti halnya kita membekali anak untuk hidup di dunia nyata, kita juga harus membekali anak untuk bergaul di dunia maya. Inilah 12 tips yang harus dicamkan orang tua demi keamanan anak-anak mereka di dunia maya, terutama di media sosial:

1. Tahukah Anda bahwa Facebook dilarang untuk anak berusia di bawah 13 tahun? Jangan merasa anak kita gaul hanya karena memiliki akun Facebook di usia 10 tahun. Cegah mereka memiliki akun Facebook hingga minimal berusia 13 tahun, meskipun teman-teman sebayanya telah memilikinya. Dengan membiarkan anak di bawah 13 tahun memiliki Facebook, artinya kita secara tak langsung mengajarkan anak berbohong mengenai usianya.

2. Cek Privacy Settings akun media sosial anak kita. Ajarkan anak agar tidak memposting secara publik, namun khusus untuk teman-temannya saja. Sembunyikan nomer ponsel dan alamat e-mail dalam akun sosial media untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Beritahu anak untuk tidak memberitahukan alamat rumah, pekerjaan orang tua, serta informasi pribadi lainnya secara dalam komentar atau profil yang bersifat publik.

3. Pasang perangkat penyaring atau filtering software dalam komputer dan ponsel anak sehingga tak bisa bebas berkeliaran di internet, termasuk menjauhi situs-situs yang berbahaya, baik yang berpotensi mengandung virus, forum yang penuh dengan hackers, atau website dengan konten pornografi dan kekerasan.

4. Ketahui kebiasaan anak. Tidak perlu menjadi jenius hanya untuk mengetahui kebiasaan anak. Ketahui siapa teman-temannya di sekolah dan luar sekolah, apa yang mereka obrolkan baik di dunia nyata maupun di dunia maya, dimana anak kita sering nongkrong, dan lain sebagainya. Bertemanlah dengan anak-anak kita di media sosial namun jangan sesekali mengintervensi atau mempermalukan mereka di depan teman-temannya. Ingat, anak kita bisa membuat akun sosial media lain tanpa memberitahu kita jika kita mempermalukan mereka. Akibatnya, kita akan kehilangan jejak mereka.

5. Simpan komputer di tempat terbuka seperti ruang makan atau ruang tengah sehingga siapapun bisa mengakses komputer tersebut dan melihat tampilan layar yang sedang dibuka. Jika rumah kita memakai fasilitas wifi dan anak kita memiliki laptop sendiri, ganti password wifi setiap pukul 10 malam agar anak tak leluasa berselancar di dunia maya tanpa pengawasan.

6. Larang anak kita mengikuti kuisioner, hadiah langsung, dan kontes yang ada di dunia maya. Seringkali kita mendapat popup ads (iklan yang tiba-tiba muncul di depan layar), mengundang kita mengisi kuisioner untuk mendapatkan hadiah i-Pad, komputer, dan lain-lain. Beritahu anak bahwa trik internet demikian merupakan cara untuk mendapatkan info pribadi melalui laptop/komputer. Lebih baik tutup iklan tersebut sesegera mungkin.

7. Awasi foto-foto yang diposting anak kita di media sosial. Orang tua yang bangga seringkali lupa bahwa sosial media penuh dengan pedofil dan impersonator. Foto yang diposting di dunia maya akan selamanya ada di dunia maya meskipun kita telah menghapusnya. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Usahakan jangan memposting foto realtime dengan caption dan background jelas, misalnya “Sekarang sedang di Kafe Anu,” dan sebagainya karena memudahkan orang jahat untuk melakukan aksinya.

8. Berikan teladan pada anak. Jika kita memiliki kebiasaan mengecek media sosial berkali-kali, memposting foto seksi, selalu update mengenai lokasi dimana kita berada, berbahasa kasar, ceroboh soal keamanan, menggunakan ponsel di tengah jalan atau saat menyetir, dan lain-lain, maka ketahuilah bahwa perilaku kita akan dicontoh anak-anak. Berikan teladan yang baik terlebih dahulu, baru kita bisa mengajarkan etika dunia maya pada anak-anak.

9. Batasi pemakaian ponsel. Membatasi pemakaian ponsel sama halnya dengan kita membatasi anak menonton TV, bermain games, jam pulang, dan lain sebagainya. Diskusikan hal ini secara tegas dan selalu ingat untuk menerapkan batasan tersebut untuk seluruh penghuni rumah, termasuk kita sebagai orang tua.

10. Ajarkan anak mengenai reputasi online. Jelaskan apa yang dimaksud jejak digital, bahwa apapun yang kita tulis dan posting di internet dan sosial media takkan hilang meski kita menghapusnya. Sebagian perusahaan mulai menerapkan kebijakan untuk melihat jejak digital karyawannya sebelum masuk kerja, bahkan ada karyawan yang dipecat gara-gara postingan sosial media. Jangan sampai masa depan anak rusak karena kecerobohannya.

10. Diskusikan bahaya internet dengan anak. Kita seringkali merasa seakan menakut-nakuti anak dengan ini-itu yang belum tentu terjadi. Namun, lebih baik anak kita ketakutan dan menghindar ketimbang merasa aman lalu tak waspada. Parry Aftab, salah seorang pakar internet dan Direktur Eksekutif WiredSafety, mengatakan, ‚ÄúSiapa orang asing di internet? Semua!” Ingatkan selalu bahwa semua orang adalah orang asing sehingga anak-anak selalu menerapkan aturan keamanan berinternet dan bermedia sosial.

11. Belajarlah teknologi. Orang tua seringkali keteteran menghadapi teknologi. Namun tak ada salahnya mulai sekarang belajar mengenali fitur-fitur teknologi terbaru agar pengawasan terhadap anak bisa maksimal. Banyak orang tua yang bahkan tak tahu “browser history” sehingga buta bahwa anaknya berselancar di website-website berbahaya atau baru saja mengobrol dengan seorang pedofilia.

12. Ajarkan pada anak untuk selalu hidup menapak di dunia nyata. Jangan biarkan mereka anteng, larut menunduk di depan ponsel, konsol games, atau layar komputer. Ajak mereka bermain dengan saudara-saudaranya, mengunjungi tempat wisata, atau melakukan aktivitas olahraga. (cho)

Comments

comments