98 Ribu Orang di Cianjur Alami Skizoprenia atau Depresi Akut

0
203

CIANJUR, patas.id – Komunitas Sehat Jiwa (KSJ) menyatakan penderita gangguan jiwa terus meningkat setiap tahunnya. Jika pemerintah tidak melakukan antisipasi atau sosialisasi tentang kesadaran warga untuk mengobati penyakit kejiwaan, maka akan banyak pengidap gangguan jiwa yang melakukan aksi nekad lantaran tak terobati.

Ketua KSJ Cianjur, Roy Anindityo, mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, ada 63 persen penduduk Jawa Barat yang mengalami masalah kejiwaan, sementara di Cianjur mencapai 21 persen atau 540 ribu orang, dimana dari total tersebut, 98 ribu mengalami skizofrenia atau depresi akut.

“Jumlah ini terus meningkat. Data 63 persen pun itu dari 2016 lalu, padahal pada 2013 angkanya hanya 23 persen.”

Menurutnya, jika dibiarkan, maka para ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) akan bertambah parah ke depresi dan ODGJ. Hal itu membuat orang akan melakukan hal nekat, seperti yang terjadi beberapa hari lalu. “Jumat lalu kan muncul kejadian seseorang bunuh diri lantaran depresi ditinggal istri. Parahnya lagi, tindakannya itu direkam dan diunggah ke Facebook secara live. Ini membuktikan jika tingkat gangguan jiwa di Indonesia semakin parah, itu juga bisa terjadi di Cianjur,” ujarnya.

Roy mengatakan, kejadian tersebut dapat berdampak besar terlebih bagi mereka yang juga sedang depresi. Tindakan bunuh diri dapat ditiru karena mereka merasakan hal yang sama, dimana tidak ada lagi upaya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

“Orang awam, melihat kejadian itu (bunuh diri, red), malah nantinya jadi motivasi untuk meniru. Padahal masih ada cara untuk mengembalikan kondisi mental mereka, yakni mau berobat, sayangnya kesadaran itu belum tumbuh.”

Kesadaran yang rendah mengenai pengobatan masalah kejiwaan, menurut Roy, dikarenakan sosialisasi dari pemerintah yang kurang. Tidak hanya itu, tenaga medis untuk masalah kejiwaan juga belum banyak tersedia. “Bagaimana mau menyelesaikan masalah kejiwaan jika sosialisasi kurang, tenaga medisnya pun tidak banyak. Bahkan yang ada pun tidak bekerja maksimal karena pemahaman tentang gangguan kejiwaan yang minim,” tuturnya.

Dia menambahkan, jika Pemkab ingin serius menangani masalah kejiwaan, maka harus siap menyediakan tenaga medis yang layak dan gencar menyosialisasikan terkait gangguan jiwa, termasuk penanganannya nanti.

“Jangan sampai seperti sekarang, psikiater hanya seorang, sisanya yang sudah purnabakti. Kalau tidak ditangani serius, maka akan banyak warga yang bunuh diri dan dipasung lantaran mengalami gangguan jiwa serta depresi,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments