Momen Gay dalam Film Beauty and The Beast Diprotes Banyak Negara

0
232

PATAS.ID – Film Beauty and The Beast yang rilis di bioskop Indonesia hari ini, Jum’at (17 Maret 2017), telah menuai banyak kontroversi di berbagai negara karena adanya momen gay dalam salah satu adegannya.

Bill Condon merupakan sutradara film yang naskahnya ditulis oleh Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos ini. Selain Beauty and The Beast, Condon pernah menyutradarai di antaranya film The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 dan Part 2. Film ini diproduksi oleh Mandeville Films dan dirilis oleh Walt Disney Pictures yang sejak dulu dikenal sebagai spesialis film kartun dan anak-anak. Untuk pemain utama dipilih Emma Watson (pemeran Hermione dalam film Harry Potter) sebagai Beauty dan Daniel Jonathan “Dan” Stevens sebagai The Beast.

Meskipun kisah Beauty and The Beast telah lama beredar di dunia dan dijadikan banyak film sejak ditulis pertama kali oleh Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve pada 1740, namun baru film BB produksi 2017 ini yang menuai kontroversi, tidak hanya di Asia namun juga di negara-negara Eropa. Apa pasal?

Salah satu tokoh dalam film Beauty and The Beast versi 2017 yakni Le Fou, yang diperankan oleh Josh Gad, ternyata adalah seorang gay yang diam-diam mencintai karakter Gaston (diperankan oleh Luke Evans). Namun tak hanya mencintai diam-diam dan dikonfirmasikan, pihak Disney juga memberikan porsi momen gay di aula dansa untuk pasangan ini serta menolak memotong adegan tersebut dalam peredarannya ke berbagai bioskop dunia.

Momen gay tersebutlah yang menuai kontroversi. Di Singapura, misalnya, Dewan Gereja Nasional menyatakan keprihatinannya mengenai film ini dengan alasan adegan tersebut bisa mempengaruhi pemikiran anak-anak.

“Beberapa pemimpin Kristiani merasa sangat prihatin dengan representasi LGBT dalam film Disney terbaru. Mereka menganggapnya sebagai usaha untuk mempengaruhi generasi muda dan menyosialisasikan gaya hidup homoseksual sebagai gaya hidup normal.”

Di Malaysia, Badan Sensor Film telah meminta pihak Disney memotong adegan tersebut, namun permintaan mereka ditolak. Karena pakeukeuh-keukeuh, Disney menunda peredaran film Beauty and The Beast di Malaysia. Banyak penonton yang telah membeli tiket online merasa kecewa. Namun pihak bioskop menyatakan bersedia mengganti harga tiket tersebut.

Hal yang sama berlaku di Hong Kong. Beberapa aktivis dan orang tua menggelar protes pemutaran Beauty and The Beast dengan alasan film tersebut tidak cocok ditonton oleh anak-anak. Pemimpin protes, Roger Wong Wai-ming, mengatakan bahwa kehadiran momen gay dalam film tersebut busa mengakibatkan anak berpikir bahwa kehidupan homoseksesual adalah sesuatu yang normal.

“Anak-anak akan percaya nilai-nilai yang tersirat dalam film, misalnya menganggap bahwa menjadi gay adalah sesuatu yang normal dan bukan masalah.”

Tak hanya di Asia, di Rusia pun sama. Tanpa banyak basa-basi, pemerintah Rusia menetapkan rating R atau 16+ untuk film Beauty and The Beast. Dengan kata lain, film itu hanya boleh dikonsumsi remaja berusia 16 tahun ke atas, bukan anak-anak.

Di Amerika Serikat sendiri, film kontroversial ini sukses meraup $120 juta dalam box office dengan rating Parental Guidance (PG) yang artinya beberapa adegan tidak pantas ditonton dan harus didampingi orang tua. Bagaimana dengan Indonesia? Di dalam negeri, Beauty and The Beast diberi label PG-13 alias hanya bisa ditonton oleh anak berusia 13 tahun ke atas, juga dengan bimbingan orang tua. (cho)

Comments

comments