Pasokan Tembaga Dunia Surut Akibat Chili dan Indonesia

0
210


CINA, patas.id – Adanya masalah dalam proses produksi 2 negara produsen tembaga, Chili dan Indonesia, membuat pasokan tembaga dunia surut. Sebelumnya, tambang Escondida yang dikelola BHP Billiton di Chili dan PT Freeport yang dikelola McMoRan di Indonesia adalah penyuplai 8%-9% tembaga dunia.

Produksi tembaga di Chili mengalami masalah dengan adanya pertikaian soal upah kerja antara buruh dan pihak manajemen Escondida. Peristiwa tersebut bermula pada 31 Januari 2017 saat manajemen menawarkan kenaikan upah yang jumlahnya diprotes karyawan. Mogok kerja berlangsung hingga 5 hari, namun hingga menjelang pertengahan Maret, pertikaian tersebut belum dapat diselesaikan. Sementara di Indonesia, pemerintah dan PT Freeport belum mencapai kata sepakat mengenai negosiasi kontrak.

Dilansir Financial Times, terganggunya pasokan tembaga dunia tersebut berdampak besar. Li Baomin, Kepala Jiangxi Copper, perusahaan pengolahan tembaga terbesar kedua dunia, menyebutkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, baru tahun 2017 ini suplai tembaga dunia mengalami kemerosotan kuantitas.

“Sebelumnya, suplai tembaga dunia sekitar 16 juta ton per tahun. Namun, dengan adanya masalah di Chili dan Indonesia, suplai berkurang hingga 200.000 ton.”

Li yakin bahwa sengketa buruh-manajemen yang terjadi di Escondia dapat segera berakhir. Namun menurutnya, masalah negosiasi kontrak di Indonesia nampaknya sulit menemui kata sepakat. Meski begitu, Li mengaku perusahaannya tak terlalu terpengaruh oleh kondisi yang terjadi di Indonesia. Kontrak Jiangxi Copper dengan PT Freeport tidak bersifat eksklusif. Dengan kata lain, perusahaannya masih bisa menerima konsentrat tembaga dari lokasi lain untuk diolah.

Akibat berkurangnya pasokan konsentrat tembaga dari Chii dan Indonesia, biaya pengolahan tembaga pun turun karena persaingan pasar sangat ketat, tutur Li. Perusahaan bersaing mendapatkan pasokan konsentrat. Apalagi, tembaga merupakan salah satu unsur utama dalam produk-produk elektronik, terutama untuk pembuatan anoda. Di Cina sendiri, menurut Li, konsumsi tembaga terus naik menjadi sekitar 11 juta ton pada 2017, meningkat dari tahun sebelumnya. (cho)

Comments

comments