Terkait Video Penganiayaan, Ini Komentar Kepsek SMK AMS

0
279

CIANJUR, patas.id – Kepala SMK Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Cianjur, Deni Koswara, memberikan penjelasan terkait video penganiayaan dengan senjata tajam oleh sejumlah siswa AMS yang menjadi viral di media sosial.

Menurut Deni saat diminta konfirmasi melalui telepon seluler, peristiwa dalam rekaman video itu terjadi setahun lalu. Sayangnya, video itu kembali diunggah di media sosial, terlebih di saat sekolahnya tengah menjadi sorotan akibat salah seorang siswanya menjadi pelaku penyabetan siswa SMKN 1 Cilaku, belum lama ini.

“Itu sudah satu setahun lalu, enggak tahu siapa yang nyebar lagi. Jadinya sekarang SMK AMS disoroti lagi.”

Menurut Deni, beberapa siswa yang melakukan kekerasan sudah dikeluarkan dari sekolah. “Beberapa siswa sudah dikeluarkan, tapi ada juga yang tidak jelas, masih ditelusuri. Salah satunya AU (17 tahun) yang sudah dikeluarkan,” paparnya.

Deni juga mengakui pihaknya juga sudah dimintai keterangan oleh polisi terkait beredarnya video tersebut. “Sudah dijelaskan ke polisi, kemarin ada yang minta konfirmasi juga. Saya juga sudah komunikasi dengan kepala sekolah lain, soalnya banyak memang yang menanyakan.”

BACA: Video Penganiayaan “AMS 212 Dibantai Sama AMS 37” Menjadi Viral

Selain video tersebut, lanjut Deni, banyak video lain terkait perkelahian, tawuran, dan penganiayaan oleh sejumlah sekolah yang beredar di media sosial. Namun karena sekolahnya sedang jadi sorotan, video tersebut kembali diunggah oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Cari saja di YouTube, pasti banyak yang serupa dan dilakukan oleh siswa sekolah lain. Tapi itu kan sudah lama, makanya sekarang bagaimana pembinaan ke depan.”

Deni menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai pencegahan, salah satunya kegiatan rohani setiap hari dan full day school dari pukul 07.00-16.00 WIB. “Kami juga adakan boarding school dan pesantren. kami akan berusaha lebih baik dalam membina siswa,” janjinya.

Selain pencegahan dari pihak sekolah, Deni juga menekankan pentingnya peranan lingkungan dan keluarga untuk ikut membimbing anak-anaknya, sebab pendidikan di sekolah hanya berlangsung beberapa jam, sementara waktu bersama keluarga dan lingkungan lebih panjang. “Bukan hanya sekolah, lingkungan, tokoh, ulama, dan orangtua juga penting. Kami ingin semua pihak ikut mengambil peran supaya pencegahan ini tidak sekedar formalitas,” katanya. (isl)

Comments

comments