2 Juta Penduduk Kongo Menggantungkan Hidupnya pada Kobalt

0
161

KONGO, patas.id – Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh Sky News, terkuak fakta menyedihkan yang mengungkap kejamnya bisnis kobalt dunia yang melibatkan tenaga kerja anak-anak di Kongo, Afrika.

Cina diketahui memiliki wilayah tambang kobalt terkaya di Kongo. Para pengepul asal Cina setiap harinya mengumpulkan kobalt yang digali anak-anak dan menjualnya kembali pada Congo Dongfang International, sebuah anak perusahaan Zhejiang Huayou Cobalt, penyuplai terbesar baterai dunia. Mereka mengumpulkan kobalt tanpa perduli bagaimana mendapatkannya, atau siapa yang menggali.

Organanisasi Kerjasama dan pengembangan Ekonomi (OECD) mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan harusnya memeriksa rantai suplai dengan cermat agar tidak mempekerjakan anak di bawah umur karena melanggar hak asasi. Pada 2016, Amnesti International juga telah meminta agar perusahaan mengumumkan sumber kobalt mereka pada publik.

BACA: Tangan Kecil Bocah-bocah Kongo Ini Menggali Kobalt untuk Baterai Ponsel Kita

Begitu hasil investigasi Sky News diumumkan Selasa (28 Februari 2017), Apple segera meminta penghentian pengiriman kobalt yang dilakukan secara tradisional dari salah satu suplier mereka, Huayou Cobalt, untuk memastikan tak ada anak kecil yang dipekerjakan dalam prosesnya. Juru bicara Apple juga mengatakan bahwa pihaknya menetapkan standar ketat bagi suplier mereka.

“Apple sangat berkomitmen dan bertanggung jawab atas materi dalam produk-produk kami dan kami merupakan perusahaan yang paling ketat menjaga standar suplier. Kami tahu bahwa pekerjaan belum selesai dan kami harus memeriksa rantai suplai lebih jauh lagi. Jika suplier tak mampu atau tak mau memenuhi standar yang diharapkan, maka kami akan menunda atau menghentikan kerja sama.”

Tyler Gillard, pakar sumber daya alam OECD, mengungkapkan bahwa kondisi ini ibarat buah simalakama. Terlalu banyak orang terlibat dalam bisnis kobalt di Kongo.

“Ada 2 juta penduduk Kongo yang menggantungkan hidupnya dari penambangan, dan kobalt sangat dibutuhkan oleh dunia. Maka tak mungkin pengusaha-pengusaha keluar dari Kongo. Yang harus dilakukan sekarang adalah memperbaiki kondisi penambangan agar tak ada lagi anak-anak yang bekerja di sana.”

Sementara itu juru bicara Huayou mengatakan bahwa perusahaannya memberi perhatian pada masalah ini dan akan mengawasi rantai suplai mereka. (cho)

Comments

comments