Yayat Cahdiyat: Teroris dan Penjual Aksesoris

0
247

CIANJUR, patas.id – Pelaku bom panci Bandung, Yayat Cahdiyat, ternyata merupakan rekan satu angkatan mantan terpidana kasus terorisme Agus Marshal di camp pelatihan militer Jalijantho, Nanggroe Aceh Darussalam.

Agus Marshal adalah warga Desa Cibening Kecamatan Bungursari Kabupaten Purwakarta yang menjalani proses deradikalisasi setelah dirangkul dan diberi modal menjadi peternak Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Menurut Agus, setelah lepas dari tahanan, dirinya belum pernah melakukan kontak kembali dengan Yayat.

Pengelola Informasi Dinas Pendudukan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Purwakarta membenarkan Yayat sebelumnya merupakan penduduk asli Purwakarta. Berdasarkan data, pelaku sejak kecil tinggal di Kampung Sukamulya RT01/RW06 Kelurahan Cisereuh Kecamatan Purwakarta hingga akhirnya menikah.

Yayat adalah residivis yang divonis 3 tahun penjara pada tahun 2013 terkait kasus terorisme yang digelandang ke Lembaga Pemasyarakatan Tangerang pada 17 Mei 2013 lalu. Yayat adalah anggota Kelompok Cikampek yang ditahan dengan vonis 3 tahun pernjara bersama-sama dengan dengan Bebas Iriana, Enjang Sumantri, serta Ujang Kusnana.

Namun, pada tahun YC bebas pada tahun 2015 setelah menjalani dua tahun hukuman di Lapas Tangerang. Enam bulan lalu, Yayat Cahdiyat menempati kontrakan milik Didih bin Opi (57 tahun) di Kampung Ciharashas RT 04/RW 07 Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur. Sehari-hari, Yayat Cahdiyat dikenal sebagai pedagang aksesoris dan mainan anak-anak yang berjualan di sejumlah sekolah di Kecamatan Cilaku.

Dua hari sebelum melakukan aksinya, Yayat dan Didih masih sempat berbincang-bincang mengenai sepinya pembeli mainan dan aksesoris anak-anak di Cilaku hingga terpaksa harus pindah berjualan ke Kecamatan Karangtengah yang berjarak puluhan kilometer dari Kampung Ciharashas.

Dilansir dari berbagai sumber, menurut Didih, Yayat beralasan pindah ke Cianjur karena ingin mencari suasana baru. “Selama ini yang saya dan warga tahu, dia berjualan mainan anak-anak dan aksesoris seperti jepit rambut, bros, dan pensil yang dihias. Dia biasa mangkal di sekolah SD yang ada di wilayah Cilaku, tapi satu pekan terakhir dia pindah jualan ke Karang Tengah karena sepi jualan di Cilaku,” papar Didih. (cho)

 

Comments

comments