Di Ciharashas, Kontrakan Pelaku Bom Panci Dipasangi Garis Polisi

0
139

CIANJUR, patas.id – Densus 88 anti teror menggeledah sebuah rumah gubuk di Kampung Ciharashas RT 04/RW 07 Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur, Senin (27 Februari 2017) sore. Rumah itu merupakan tempat tinggal salah seorang pelaku pengeboman di depan kelurahan Arjuna Kecamatan Cicendo Kota Bandung‎.

‎Penggeledahan yang juga disertai anggota Polres Cianjur dilakukan dengan cepat. Warga sekitar rumah pelaku yang bernama Yayat Cahdiyat (41 tahun) pun dibuat kaget dengan datangnya anggota polisi dan Densus bersenjata lengkap tersebut. ‎Begitu sampai di lokasi, Densus dan polisi langsung masuk ke rumah gubuk dengan luas 40 meter persegi tersebut. Beberapa barang dari rumah pun disita sebagai barang bukti.

Kapolres Cianjur, Arif Budiman, mengatakan, pihaknya hanya membantu Densus dan Polda Jabar untuk menggeledah rumah pelaku dan membawa barang bukti.

“Ada yang dibawa (barang bukti). Kami hanya bantu Polda dan Densus untuk menggeledahnya. Sekarang rumah pelaku sudah dipasangi garis polisi,” ujarnya usai penggerebekan.

Didin bin Opi (57 tahun), tetangga sekaligus pemilik rumah yang dikontrak‎ pelaku, mengungkapkan bahwa rumahnya dikontrak sejak enam bulan lalu. Awalnya pelaku dikenalkan oleh keponakannya. “Pelaku kan jualan mainan sama aksesoris, jadi kenal sama keponakan. Dikenalkan, katanya nyari kontrakan, beberapa hari kemudian langsung ngontrak di rumah almarhum ibu saya.”

Menurut Didin, pelaku tinggal bersama istri dan dua anaknya dengan biaya kontrakan Rp 200 ribu per bulan. Namun karena jarang berinteraksi, warga tidak begitu mengenal pelaku dan keluarganya. “Saya juga tahunya sama pelaku saja, nama istri atau anaknya tidak tahu. Soalnya jarang ngobrol atau bersosialisasi. Kalau pakaian istri pelaku sangat tertutup, pakai cadar dan pakaian serba panjang.”

Pelaku, lanjut Didin, meninggalkan rumahnya hari ini pada pukul 04.00 WIB menuju Bandung dengan alasan ibunya sedang sakit.‎ Pelaku berangkat dengan anak dan istrinya.

“Sebelum subuh berangkat, katanya ibunya sakit. Setiap ke Bandung seperti itu. Katanya takut kena tilang, soalnya tidak ada surat-surat. Plat nomornya T (Purwakarta). Tahu-tahu siangnnya ada kabar pengeboman, pelakunya Yayat.”

‎Hal senada diungkapkan Mustofa (48 tahun) Ketua RT 04. Saat pertama pindah, tutur Mustofa, pelaku hanya melapor dan memberikan fotocopy KTP. Ketika diminta Kartu Keluarga, pelaku beralasan ketinggalan. “Ngakunya orang bandung, tapi lahirnya di Purwakarta. Saya pernah minta surat pindah, tapi katanya nanti nyusul,” kata dia.

Mustofa mengiyakan pernyataan Didin bahwa pelaku yang berprofesi penjual aksesoris dan bandros tersebut tertutup. Namun warga tidak curiga dengan gerak-gerik pelaku, sebab kurang bergaul dan bersosialisasi.

“Jualannya ke SD di dekat sini. Kalau waktunya solat dia solat, tapi ketika siang tidak pernah ngobrol sama warga. Tidak curiga, soalnya memang tak banyak kenal. Tidak pernah bawa teman.”

Berdasarkan informasi terakhir yang dihimpun, Densus dan anggota Polisi yang kembali ke Mapolres pada pukul 17.00 WIB itu membawa tiga kantong besar berisi barang bukti. (isl)

Comments

comments