Ngaku Terlantar Jadi Modus Baru

0
194

CIANJUR, patas.id – Akhir-akhir ini, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cianjur sering menemukan oknum yang mengaku-ngaku orang terlantar di Cianjur. Akibatnya, instansi yang dipimpin H Sumitra itu sulit membedakan antara orang terlantar asli yang patut diberi bantuan dengan yang menipu untuk mendapatkan sejumlah uang.

Kepala Seksi Bantuan Korban Bencana dan Perlindungan Tindak Kekerasan Bidang Bantuan dan Perlindungan Sosial Dinsos Kabupaten Cianjur, Nunung Sahrudin, mengatakan hampir setiap hari Dinsos kedatangan orang yang mengaku terlantar, baik perseorangan maupun yang diantarkan polisi.

”Banyaknya yang mengaku kekurangan ongkos dan terlantar di Cianjur, kecopetan, atau korban penipuan selama perjalanan. Sebagian besar meminta bantuan untuk mendapatkan ongkos pulang,” tuturnya.

Menurutnya, Dinas sering kesulitan membedakan orang yang benar-benar terlantar atau hanya berpura-pura. Pasalnya, tidak ada kategori khusus mengenai orang terlantar. Kejelasan status orang terlantar diakui pihak Dinas dapat lebih mudah diketahui jika orang tersebut membawa serta surat keterangan dari kepolisian.

Sejauh ini, lanjut Nunung, tidak sedikit orang yang datang ke dinsos dengan berpura-pura menjadi orang terlantar. Berpura-pura tersasar, sakit, dan sedang melakukan perjalanan jauh menjadi modus yang banyak ditemui sejauh ini. ”Karena dasar rasa kemanusiaan, akhirnya kami juga tetap membantu mereka. Walaupun harus diakui, kami kecolongan karena banyak yang modus atau hanya mengaku-ngaku,” katanya.

Diperkirakan, modus-modus seperti itu dilakukan untuk mendapatkan sejumlah uang bantuan dari Dinas. Mayoritas pelakunya berusia dewasa dan tergolong produktif, mereka biasanya datang di waktu-waktu tertentu.

“Orang-orang dengan modus tersebut sering datang pada waktu pencairan anggaran. Pertengahan tahun menjadi waktu ramainya kedatangan orang yang mengaku terlantar.”

Maraknya modus tersebut pun akhirnya menimbulkan anggapan bahwa orang terlantar palsu itu mengetahui waktu khusus yang memungkinkan mereka mendapatkan sejumlah uang. Biasanya, ada orang yang pernah melakukannya terlebih dahulu dan kemudian menyebarluaskan kepada rekannya mengenai bantuan yang diberikan.

Nunung mengakui, pertolongan kepada orang terlantar palsu itu seringkali menimbulkan permasalahan baru. Soalnya, beberapa kali terjadi kasus pencurian yang dilakukan oleh orang yang mengaku terlantar.

”Ketika kami menyerahkan ke yayasan, mereka malah mencuri dan kabur dari tempat itu. Akhirnya, kami yang mendapat komplain dari pihak yayasan.”

Maka dari itu, ungkap dia, pihaknya pun semakin memperketat proses penerimaan dan memberikan bantuan. ” Kami tidak ingin salah membantu pihak yang tidak bertanggung jawab. Terlebih, Dinsos tidak ditunjang anggaran untuk membantu kasus orang terlantar,’ tuturnya. (isl)

Comments

comments