Pentingnya Mengajarkan Empati pada Anak-anak

0
305
Little girl helping younger boy put adhesive bandages on his knee

PATAS.ID – Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya bahagia. Namun, seringkali orangtua salah mengartikan kebahagiaan anak-anak dengan cara menghujani mereka dengan hadiah-hadiah atau melakukan segala cara agar hidup anak-anaknya mudah.

Hal ini biasanya membuat anak-anak menjadi manja, mau menang sendiri, bahkan tumbuh menjadi pribadi yang murung. Mengapa demikian? Karena tak ada yang lebih membahagiakan selain membahagiakan atau menolong orang lain.

Para ilmuwan telah membuktikan bahwa otak sosial manusia akan menyala terang saat melakukan suatu kebaikan atau saat menolong orang lain. Dengan kata lain, berempati. Nyala di bagian otak tersebut lebih terang ketimbang saat mendapat hadiah. Artinya, secara ilmiah, empati akan membuat perasaan menjadi lebih baik, lebih bahagia.

Dr Matthew Lieberman, seorang ilmuwan syaraf dan penulis buku Social: Why Our Brains Are Wired to Connect, menunjukkan beberapa keuntungan yang bisa didapat saat melakukan suatu kebaikan atau menolong orang lain, dalam skala kecil.

“Anak-anak pintar yang bersedia membantu menerangkan pelajaran yang sulit pada anak-anak lain di kelas ternyata cenderung lebih bahagia, otak sosial mereka menyala terang saat melakukannya.”

Empati, menurut Leberman, adalah kemampuan untuk memahami perasaan perasaan orang lain yang membutuhkan bantuan dan penghiburan. Anak-anak yang memiliki rasa empati akan lebih bertenggang rasa.

Lebih jauh, pakar pengasuhan Cornelia Dahinten mengungkapkan bahwa anak yang tak mendapatkan empati di rumah atau tak diajarkan berempati, akan tumbuh menjadi anak yang juga tak memiliki rasa empati. Empati juga bukan sesuatu yang mudah diajarkan.

 

“Kemampuan berempati terdapat pada setiap orang, namun harus diajarkan dan dibiasakan, terutama pada anak.”

Menurut Dahinten, anak-anak yang tak diajarkan untuk berempati akan tumbuh menjadi anak-anak yang tak mekiliki rasa belas kasih atau tenggang rasa. Mereka tak memahami perasaan orang lain, takkan menyadari telah melukai perasaan orang lain, bahkan tak perduli jika menyakiti hati saudara bahkan orang tuanya sendiri. Akibatnya, mereka cenderung tak bahagia.

 

Empati, menurut Dahinten, jarang diajarkan oleh orang tua maupun guru dan berkembang pesat menjadi tren buruk. Media sosial adalah tempat dimana kita bisa melihat karakter orang-orang, mana yang memiliki rasa empati, dan mana yang tidak, lanjutnya.

Denmark merupakan salah satu negara yang mengajarkan empati di sekolah. Sejak usia dini, anak-anak sekolah di Denmark dibacakan cerita-cerita mengenai belas kasih, membantu sesama, dan toleransi. Siswa-siwa juga diajarkan mengeluarkan pendapat secara santun dan mengekspresikan perasaan mereka melalui bahasa. Menurut Dahinten, itulah sebabnya mengapa warga Denmark memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di dunia. Mereka juga disukai dan dianggap memiliki karakter positif. (cho)

Comments

comments