Kebisuan Suu Kyi Mengundang Tanda Tanya Dunia

0
171

YANGUN, patas.id – Kebisuan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, terkait pembunuhan penasehat muslimnya yang terbunuh minggu lalu mengundang pertanyaan. Dunia bertanya-tanya mengenai kesungguhan Suu Kyi dalam menyelesaikan konflik agama di negaranya.

Penasehat muslim Suu Kyi, Ko Ni, ditembak di Bandara Internasional Yangun pada Minggu (29 Januari 2017) lalu. Selain Ko Ni, sopir taksi yang mencoba melawan pun dieksekusi di tempat. Ko Ni merupakan pakar hukum tata negara, pengacara muslim ternama  di Myanmar, sekaligus penasehat Suu Kyi yang membantunya dalam masa kampanye.

Namun Suu Kyi tak menghadiri pemakaman Ko Ni sehari setelahnya (30 Januari 2017) di Yay Way Cemetery, juga tak memberikan pernyataan apapun terkait kematian penasehatnya tersebut. Juru bicara kepresidenan hanya menyerukan agar masyarakat tetap tenang dalam aksi yang menurut mereka bisa menyulut instabilitas negara tersebut, namun Suu Kyi sendiri tetap bisu.

Kyi Lin (53 tahun), pelaku penembakan Ko Ni, langsung ditangkap di tempat kejadian. Dilansir Nikkei hari Senin (6 Februari 2017), pelaku mengaku bahwa motif pembunuhan tersebut adalah uang. Hal yang sama dituturkan oleh Kepala Polisi Yangun, Brigadir Jenderal Win Naing pada Myanmar Now. Tanpa menyebut siapa otak di balik penembakan yang bersedia membayar pelaku, Win Naing menyebut kemungkinan besar motif Kyi Lin melakukan penembakan adalah uang.

“Kemungkinan besar motifnya adalah uang.”

Kesungguhan Suu Kyi dalam menyelesaikan konflik agama dan kasus kematian Ko Ni dipertanyakan. Pihak kepolisian memang menyatakan akan menyelidiki kasus Ko Ni hingga tuntas, namun hingga kini tak ada kabar mengenai kelanjutan kasus tersebut. Kabar terbaru mengenainya justru didapat dunia dari kebocoran data online. Fakta bahwa Kementrian Dalam Negeri Myanmar (yang mengatur kepolisian) terdiri dari orang-orang militer juga membuat dunia internasional skeptis.

Ironisnya, Aung San Suu Kyi sendiri menerima Nobel Perdamaian pada 1991, atas perjuangannya dalam memajukan demokrasi di Myanmar tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer. (cho)

 

Comments

comments