Korban Trafficking: Sponsor Bilang Pemberangkatannya Resmi

0
172

CIANJUR, patas.id – Para Korban pemberangkatan TKI ilegal mengaku tidak mengetahui adanya moratorium pemberangkatan TKI ke negara-negara di wilayah Timur Tengah. Upah yang besar pun jadi daya tarik mereka untuk bekerja di luar negeri.

Neng, warga Desa Nagrak Kecamatan Cianjur, mengaku tidak mengetahui adanya moratorium pemberangkatan TKI ke 21 negara di Timur Tengah. Bahkan pada 2012 lalu, tepat setahun pasca moratoirum keluar, dirinya sempat bekerja di Arab Saudi.

“Tidak tahu ada moratorium. Ini saya berangkat yang kedua kalinya. Pernah bekerja di Arab Saudi pada 2012 lalu, hanya dua tahun sampai 2014,” katanya saat ditemui usai Gelar Perkara penangkapan pelaku trafficking bermodus pemberangkatan TKI, Kamis (2 Februari 2017).

Hal senada diungkapkan Nur Aisah (23 tahun) warga Desa Sukamanah Kecamata Agrabinta. Dirinya juga tidak mengetahui adanya moratorium TKI tersebut. Menurut Nur, pihak sponsor atau penyalur TKI pun mengatakan jika pemberangkatannya resmi, sehingga ia mau untuk kembali menjadi TKI ke Arab Saudi.

“Saya sempat jadi TKI pada 2008 sampai 2010. Niatnya mau berangkat lagi karena katanya resmi, tapi ternyata dilarang dan saya dijadikan korban trafficking oleh sponsornya.”

BACA: Pelaku Trafficking Dapat Bayaran Rp 14 Juta Per Korban

Menurutnya, upah yang diterimanya sebagai pembantu mencapai 1.000 dirham atau sekitar Rp 3,6 juta per bulan. Besaran upah tersebut membuatnya bersedia menjadi TKI dan meninggalkan suami serta anaknya di kampung halaman. Tingkat pendidikan yang hanya berakhir di tingkat SD juga membuat Nur lebih memilih jadi TKI, sebab di Cianjur tak ada lapangan pekerjaan baginya.

“Ya lumayan untuk bantu ekonomi keluarga. Tapi karena sekarang sudah tahu ada moratorium, saya lebih baik di rumah jadi ibu rumah tangga atau bantu suami saya jadi buruh tani.”

Sebelumnya, Polres Cianjur menangkap S (53 tahun) pelaku trafficking bermodus pemberangkatan TKI. Pelaku melakukan aksinya lantaran tergiur nilai fee yang mencapai Rp 14 juta per orang yang diberangkatkan. (isl)

Comments

comments