Mengenal Dalem Pancaniti, Dalem yang Nyeni

0
154
Dalem Pancaniti, dilukis oleh Raden Saleh, 1852.

PATAS.ID –  Berbicara tentang seni mamaos Cianjuran tentu takkan bisa lepas dari menyebut nama Raden Tumenggung Adipati Ariya Kusumaningrat atau lebih dikenal dengan nama Dalem Pancaniti, tokoh Cianjur yang menjabat sebagai  Bupati Cianjur ke-VIII pada kurun waktu 1834-1864.

Sewaktu kecil, Dalem Pancaniti dikenal dengan sebutan Aom Hasan. Beliau adalah putra Adipati Prawira Direja I, Bupati Cianjur yang memerintah hingga tahun 1833. Seperti halnya putra menak lain, Aom Hasan diberi pendidikan kebangsawanan sekaligus ilmu agama. Aom Hasan dipesantrenkan pada seorang ulama berilmu tinggi, yakni Ajengan Cimuncang yang memiliki pesantren di wilayah Lampegan, Cianjur.

Kesenangan Aom Hasan sewaktu kecil adalah berburu burung sambil menunggang kuda sehingga banyak sawah yang rusak oleh derap kaki kudanya. Sebagai ganti rugi bagi penduduk, Adipati Prawira Direja kemudian membeli sawah-sawah yang rusak tersebut. Meskipun sedikit nakal, Aom Hasan disayangi karena dikenal sebagai santri yang cemerlang dan cepat menguasai ilmu. Selain belajar agama dan pemerintahan, sejak kecil Aom Hasan juga mempelajari seni pantun dan degung pada Raden Wasitareja.

Tanggal 2 Maret 1830, Aom Hasan diangkat menjadi Patih Cianjur dengan gelar Rangga dan namanyapun berubah menjadi Raden Rangga Wiradireja. Pada tahun 1833, Adipati Prawira Direja I turun dari jabatan Bupati dan posisinya untuk sementara diisi oleh kakak Raden Rangga Wiradireja yang berlainan ibu, yakni Raden Tumenggung Wiranagara. Tumenggung Wiranagara akhirnya lengser dari jabatannya sebagai Warnent Regent (Bupati Sementara) dan digantikan oleh Aom Hasan alias Raden Rangga Wiradireja.

Pada 28 November 1834, dengan besluit atau Surat Keputusan Belanda No. 9, Tumenggung Wiradireja diangkat sebagai Warnent Regent Cianjur dengan nama baru Raden Tumenggung Suria Natadiningrat. Dua tahun kemudian, berdasarkan SK Belanda No. 15 tertanggal 22 Januari 1836 (tepat 181 tahun lalu), beliau diangkat sebagai Regent atau Bupati Cianjur.

Pada 31 Oktober 1850, Raden Tumenggung Suria Natadiningrat diberi gelar Ariya sekaligus dengan perubahan nama menjadi Tumenggung Ariya Surya Adhiningrat. Gelar terakhir yang diberikan Belanda berdasarkan Besluit No. 42 tertanggal 11 Maret 1851 adalah gelar adipati sekaligus perubahan nama (lagi) menjadi Raden Tumenggung Adipati Ariya Kusumaningrat.

Namun selain nama-nama resmi, Aom Hasan memiliki nama istimewa yang diberikan oleh rakyatnya, yakni Dalem Pancaniti. Pancaniti adalah sebuah paviliun di Pendopo Bupati Cianjur yang dijadikan pusat segala kegiatan Raden Tumenggung Adipati Ariya Kusumaningrat, mulai urusan politik, agama, hingga seni.

Bukti kecerdasan ilmu Dalem Pancaniti bisa dibuktikan dalam naskah berjudul “Sejarah Wangsa Goparana Sagalaherang”. Naskah ini ditulis tahun 1857 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada  jurnal Bijdragen Tool-Land-en Volkenkunde, yaitu sebuah penerbitan Belanda yang mengkhususkan diri pada isu-isu humaniora. Naskah ini menjadi sumber telaah penyebaran agama Islam di Jawa Barta sekaligus sumber utama Babad Cikundul. Naskah berikutnya sebanyak 39 halaman juga dikirimkan ke Belanda, berisi  perubahan bupati dan silsilah Wiratanudatar. Selain itu, Dalem Pancaniti membantu penulisan kamus Sunda-Belanda “Soendasch-Nederduitsch Woordenboek” yang dicetak tahun 1879.

Namun, Dalem Pancaniti paling dikenal sebagai dalem yang nyeni dan merupakan pelopor seni mamaos Cianjuran. Konon salah satu bukti kecintaannya pada seni tembang adalah dengan selalu mengirimkan surat permintaan kunjungan kepada istrinya (yang tetap tinggal di padaleman), dalam pupuh Kinanti:

  • Serat sayoga kiahonjuk
  • hing pangkon Dalem Dipati
  • sesekar eros ermawar
  • acina gambir malati
  • mustikaning panggulingan
  • inten komala retnadi
  • Engkang dek aya piunjuk
  • manawi bahan katampi
  • maksad engkang dek nepangan
  • ka puputon sanubari
  • mugi enggal diwalonan
  • dianti di Pancaniti.

Pada masa pemerintahannya, Dalem Pancaniti mengumpulkan seniman-seniman terbaik di Cianjur untuk diangkat menjadi seniman kebupatian. Seniman kabupaten yang terkenal di jaman Dalem Pancaniti tersebut adalah:

  1. Raden Natawireja atau lebih dikenal dengan sebutan Haji Palil, ahli sastra dan seni suara.
  2. Bapa Aen, juru pantun kabupaten.
  3. Ma’ing Buleng yang merupakan juru sinden (waranggana).

Seni mamaos Cianjuran hasil pemikiran Dalem Pancaniti merupakan perpaduan yang harmonis anatara alunan suara juru kawih mamaos dengan bunyi instrumen pengiring, yakni suling berlubang enam dan kecapi indung. Tak hanya mengorganisir seniman dan menggubah mamaos, Dalem juga mengelompokkan jenis-jenis mamaos menjadi papantunan, dedegungan, jejemplangan, serta rarancagan.

Sebagai seorang pakar mamaos, Dalem Pancaniti juga memiliki kecapi sendiri yang biasa dimainkannya. Kecapi tersebut bernama Nyi Pohaci Guling Putih. Kecapi pusaka itu berwarna putih seperti lesung dan memiliki 15 kawat Namun meski menyukai kesenian, namun Dalem pancaniti juga seorang penguasa yang memahami agama dan menyukai olahraga. Tak heran jika di masa lalu, di kalangan masyarakat Cianjur terkenal ungkapan, “Bukan orang Cianjur jika tak bisa ngaos (mengaji), mamaos (Cianjuran), dan maenpo (pencak silat).”

Pada tanggal 17 Juli 1864, Raden Tumenggung Adipati Ariya Kusumaningrat tutup usia meninggalkan terlalu banyak karya dan jasa-jasa dalam berbagai bidang. Kreasi dan penyebaran seni mamaos Cianjuran kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raden Adipati Ariya Prawiradireja II, sehingga gaung mamaos Cianjuran dari Pancaniti tetap terdengar hingga sekarang… (cho)

 

———————————–

Catatan: Tulisan diambil dari buku “Riwayat Pembentukan dan Perkembangan Cianjuran” yang disusun oleh Drs. Enip Sukanda, RHM Kosasih Atmadinata, serta Dr. Dadang Sulaeman. Buku ini diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provisi Jawa Barat (2016).

Comments

comments