Batal Terbang, Ribuan Penumpang Tigerair Gigit Jari

0
163
??????????????????????????????????

BALI, patas.id – Batalnya penerbangan pesawat Tigerair dari dan menuju Bali menyebabkan ribuan penumpang gigit jari. Dilansir dari berbagai media, sebagian besar penumpang yang merupakan warga Australia, mengaku kecewa dan meminta penjelasan pada pihak-pihak terkait.

Maskapai penerbangan Tigerair yang melayani jalur menuju Bali dari Perth, Adelaide dan Melbourne sejak bulan Maret 2016 lalu, tiba-tiba membatalkan 6 jalur penerbangannya hari ini, Kamis (12 Januari 2017). Ratusan penumpang maskapai yang menawarkan tiket murah-meriah tersebut kini menumpuk di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, dalam kondisi tak menentu.

Jadual penerbangan yang dibatalkan tersebut adalah: TT1 dari Melbourne menuju Denpasar, TT24 dari Denpasar menuju Perth, TT25 dari Perth menuju Denpasar, TT16 dari Denpasar menuju Adelaide, TT19 dari Perth menuju Denpasar, serta TT2 dari Denpasar menuju Melbourne.

Jonte Grose, salah satu warga Perth, menuturkan bahwa pembatalan jadual penerbangan yang mendadak tersebut membuatnya harus mencari tiket pesawat lain untuk pulang ke Australia. “Kami terpaksa membeli tiket pesawat baru seharga $1.700, jauh lebih mahal ketimbang harga tiket Tigerair,” keluhnya.

Sementara itu manajemen Tigerair menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah berusaha mencarikan penerbangan alternatif menuju Australia bagi para penumpangnya yang hendak pulang. Sementara bagi penumpang Australia yang batal berangkat ke Bali, Tigerair menawarkan uang pengembalian seharga tiket pesawat.

Namun penggantian uang tiket juga tak menyelesaikan masalah. Ken Trembath, salah seorang warga Australia, telah merencanakan liburan panjang ke Bali bersama istri dan 3 anaknya jauh-jauh hari. Rencananya, mereka akan mengunjungi Pulau Dewata selama 10 hari. Saat dirinya mendapat SMS batal terbang dari pihak Tigerair pukul 04.00 pagi ini, Trembath mengaku sangat kesal.

“Kami sudah memesan hotel di Bali, menukar dollar menjadi rupiah, menyewa mobil, dan lain sebagainya. Aku dan istriku tak bisa mengubah jadual liburan karena anak-anak sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Lagipula, kalau harus terbang dengan maskapai lain yang tiketnya mahal, kami harus mengeluarkan uang ekstra sekitar $7.000. Kami tak mampu.”

Mia Aukland dan Andrew Baum, warga Adelaide, menerima SMS serupa dari Tigerair. “Awalnya kami kira bercanda,” ujar Aukland, seraya menambahkan bahwa dia takkan pernah naik Tigerair lagi. Sementara seorang penumpang lain asal Australia tengah berusaha mencari tiket Garuda Airlines untuk bisa bertemu istrinya di Bali.

Chief Executive Officer (CEO) Tigerair Australia,  Rob Sharp, mengungkapkan bahwa dirinya sangat kecewa dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang secara mendadak membatalkan penerbangan dari dan menuju Bali. “Jika pemerintah Indonesia tak menghormati kesepakatan yang berlaku saat ini, setidaknya mereka harus memberikan tempo agar kami tetap bisa terbang melayani penumpang sambil menunggu kesepakatan baru dibuat,” ujarnya. (cho)

Comments

comments