Indonesia Peringkat 130 dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia

0
214

PATAS.ID – Indonesia menduduki peringkat ke-130 dari 180 negara di dunia dalam Indeks Kebebasan Pers versi Reporters Sans Frontieres (RSF) atau Reporters Without Borders. Lembaga internasional yang bermarkas di Paris (Perancis) tersebut memberikan poin sebanyak 41,72 untuk Indonesia. Poin Indonesia tahun 2016 tersebut lebih baik dari tahun sebelumnya (2015) yang hanya 40,75.

Selain memberi poin untuk Indeks Kebebasan Pers, RSF juga memetakan indeks ini berdasar wilayah geografis disertai warna per negara (lihat pada gambar ilustrasi). Setiap warna menggambarkan kondisi kebebasan pers di masing-masing negara dengan indikasi sebagai berikut: baik (warna putih), cukup baik (kuning), bermasalah (oranye), buruk (merah), sangat buruk (hitam).

Penilaian indeks kebebasan pers tersebut didapat RSF dengan membangun sebuah sistem kuisioner online berisi 87 pertanyaan dalam 20 bahasa termasuk Inggris, Spanyol, Arab, Mandarin, Korea, serta bahasa Indonesia. Responden kuisioner terdiri dari profesional di bidang jurnalistik dan media, pengacara, serta ahli sosiologi. Poin didapat melalui jawaban responden digabungkan dengan data RSF mengenai kekerasan terhadap jurnalis di masing-masing negara.

Pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner berhubungan dengan pluralisme, independensi media, keselamatan jurnalis serta kebebasan menulis pemberitaan. Setiap responden wajib memberikan poin mulai 0-100 terhadap indikator-indikator di bawah ini:

  • Pluralisme. Setiap responden harus memberi nilai apakah opini yang diberitakan dalam media sudah berimbang (dari berbagai sudut pandang) atau tidak.
  • Independensi Media. Setiap responden harus menilai apakah media yang hadir sudah bebas dari pengaruh dan kepentingan politik, pemerintaham, bisnis, agama, dan lain-lain.
  • Lingkungan dan Gunting Sensor. Setiap responden harus menganalisa lingkungan, situasi dan kondisi mengenai bagaimana sebuah berita disuguhkan.
  • Bingkai Legislatif. Setiap responden harus menilai dampak informasi dan berita terhadap sistem pemerintahan dan perundang-undangan.
  • Transparansi. Setiap responden harus menilai transparansi lembaga dan jalur prosedural yang mempengaruhi penyuguhan berita.
  • Infrastruktur. Setiap responden harus menilai infrastruktur yang mendukung lahirnya sebuah berita dan informasi.
  • Kekerasan. Setiap responden harus menilai ada tau tidaknya tindakan kekerasan terhadap jurnalis dan media selama kurun waktu penilaian.

Finlandia, Belanda, Norwegia, Denmark dan Selandia Baru menempati urutan 5 besar dalam daftar Indeks Kebebasan Pers versi RSF, sementara negara Eritrea menduduki peringkat terakhir. Eritrea adalah negara Afrika yang berbatasan dengan Sudan dan Ethiophia. Di Eritrea, kebebasan pers memang dikekang oleh rezim Presiden Isaias Afwerki yang represif. Setiap media dan jurnalis harus memiliki lisensi resmi dari pemerintah berdasarkan Undang-undang Proklamasi Pers Tahun 1996.

Indonesia yang duduk di posisi ke-130 dengan poin 41,72 mengalami kenaikan peringkat dari tahun 2015 yang berada di posisi 138 dengan  poin 40,75, sementara di tahun 2014 Indonesia berada di peringkat 132 dengan poin 38,15. Akankah Indeks Kebebasan Pers di Indonesia membaik di tahun 2017? Semoga. (cho)

Comments

comments