Petani Cabai Terpaksa Mempercepat Masa Panen

0
175
CIANJUR, patas.id – Petani cabai di Cianjur mengaku sering mengalami gagal panen akibat tingginya intenitas hujan. Bahkan, kegagalan yang terjadi musim ini dinilai yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
‎Yusuf Ansori (23 tahun) salah seorang petani cabai di Kecamatan Takokak, menjelaskan bahwa gagal panen biasanya hanya terjadi saat pohon cabai sudah berbuah dan buahnya membusuk. Namun saat ini setelah beberapa lama ditanam, pembusukan pohon cabai dimulai dari akarnya.
“Tahun ini paling parah, bukan hanya buahnya. Batang dan akarnya juga membusuk sebelum berbuah.”
Menurut Yusuf melalui hubungan telepon seluler, dari seluruh lahan yang ditanami cabai, lebih dari 60 persennya mati dan membusuk. “Jadinya ‎merugi, belum berbuah sudah rugi banyak. Ini yang dihadapi petani cabai saat ini,” keluhnya seraya menambahkan bahwa para petani tetap berusaha menanam dengan mempercepat masa panen. Akibatnya, cabai pun dipaksakan dipanen saat masih hijau, sebab petani tak mau ambil resiko cabai busuk jika menunggu hingga merah.
“Lebih baik seperti itu, untungnnya sedikit ‎juga tidak apa yang penting tak rugi besar. Asalkan ada untk masa tanam berikutnya.”
Yusuf menjelaskan bahwa petani menjual cabai keriting seharga Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram, sementara untuk cabai rawit seharga Rp 40 ribu per kilogram kepada para distributor atau pedagang. “Kalau harga di pasarnya berapa, kami juga tidak tahu, yang jelas dari petani segitu. Kalau ada permainan harga, ya itu adanya di tingkatan tengkulak atau pedagangnnya sendiri,” ujarnya. (isl)

Comments

comments