6 Jenis Bully yang Wajib Diketahui Orang Tua dan Guru

0
200
Boy bullied
Boy bullied

PATAS.ID – Jika kita berbicara masalah kekerasan atau bully yang terjadi pada anak yang umumnya terjadi di sekolah, kita selalu membayangkan anak-anak yang di-bully dengan cara dipalak, dijambak, dipukul, atau ditendang oleh senior atau sebaya yang bertubuh lebih besar.

Namun sesungguhnya, kekerasan fisik hanya merupakan salah satu dari beberapa jenis kekerasan yang bisa terjadi di sekolah. Ada beberapa jenis bully yang wajib diketahui oleh orang tua dan guru, antara lain:

  • Kekerasan Fisik. Kekerasan jenis ini paling sering terjadi dan paling gampang dikenali. Bully fisik terjadi saat seorang anak menggunakan kekuatan tubuhnya untuk menguasai dan mengontrol korban. Tak heran jika pelaku bully jenis ini biasanya bertubuh besar, kuat, atau lebih nekat dan keji dibanding anak-anak lain. Termasuk ke dalam jenis bully fisik adalah: menendang, memukul, menampar, mendorong, serta serangan fisik lainnnya.
  • Kekerasan Verbal. Pelaku bully verbal biasanya menggunakan kata-kata, pernyataan, atau nama panggilan tertentu untuk mengejek korban. Lontaran kata-kata yang diucapkan sengaja dimaksudkan untuk mengerdilkan dan melukai perasaan. Ejekan biasanya disesuaikan dengan penampilan atau perilaku korban (Si Hitam, Si Tonggos, Si Tolol, dlsb). Seringkali, kekerasan verbal ini ditujukan pada anak berkebutuhan khusus. Sayangnya, bully verbal jarang diketahui karena tak berbekas atau tak terdengar secara langsung. Pelaku bully verbal biasanya tak mengejek korban di sekitar orang dewasa. Oleh karena itu, orang tua dan guru korban bully verbal biasanya menganggap korban hanya mengarang cerita atau melebih-lebihkan. “Jangan dengerin,” adalah nasehat yang biasa diberikan pada korban bully verbal. Padahal, dampak bully verbal bisa membekas hingga anak mencapai umur dewasa.
  • Kekerasan Status. Kekerasan semacam ini juga jarang dilakukan di depan guru atau orang tua korban. Bully status atau bully emosional adalah bentuk manipulasi sosial dimana pelaku sengaja menjatuhkan status korban dengan cara merusak citra, menyebarkan gosip, membentuk opini, atau mengucilkan korban. Tujuan utama bully status adalah untuk menaikkan status sosial pelaku dan menjatuhkan status sosial korban. Pada umumnya, pelaku bully status adalah remaja perempuan. Namun bully status juga bisa terjadi di tempat kerja atau lingkungan sosial lainnya.
  • Kekerasan Cyber. Kekerasan cyber terjadi saat pelaku menggunakan koneksi internet, ponsel, atau teknologi lainnya untuk melecehkan, mempermalukan, atau mengancam korban. Termasuk ke dalam bentuk cyberbullying adalah memosting foto memalukan, mengancam dalam komentar, atau mengirim pesan yang menyakitkan melalui SMS atau email. Pelaku kekerasan cyber biasanya merasa bebas karena tidak harus mem-bully secara langsung. Mereka bisa bersembunyi di balik nama atau nomor asing yang tak diketahui korban. Sedangkan korban kekerasan cyber biasanya merasa dikejar-kejar karena mereka tak bisa menghindar, bahkan di rumahnya sendiri. Saat ini, seiring dengan derasnya laju teknologi informasi, tren kekerasan cyber terus meningkat.
  • Kekerasan Seksual. Pelaku bully seksual biasanya melakukan perbuatannya berulang-ulang. Bentuk bully seksual meliputi ejekan atas bentuk tubuh, memberikan gestur tak senonoh, ajakan melakukan tindakan seksual, mengirim gambar atau video porno, menyentuh bagian tubuh tertentu, dan lain sebagainya. Kebanyakan korban kekerasan seksual adalah perempuan, sementara pelakunya bisa lelaki atau perempuan. Pelaku bully seksual lelaki biasanya menyentuh atau mengirimkan gambar porno, sementara pelaku perempuan biasanya memberikan nama panggilan yang menjatuhkan korban (Si Gatal, Si Ganjen, Pelacur Murahan, dlsb). Terkadang, kekerasan seksual terjadi karena korban memberi peluang. Sebagai contoh, mantan pacar yang sakit hati bisa saja menyebarkan foto-foto mantannya yang sedang berada dalam keadaan telanjang atau berpakaian minim. Akibatnya, seluruh sekolah bisa mengolok-olok korban. Sangat penting bagi orang tua atau guru untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai kekerasan seksual pada anak serta menjelaskan konsekuensinya.
  • Kekerasan Prasangka. Korban kekerasan jenis ini biasanya adalah kaum minoritas yang memiliki ras, agama, atau orientasi seksual yang berbeda. Pelaku bully prasangka biasanya berusaha menjatuhkan harga diri dan kehormatan korban dengan melakukan segala jenis kekerasan seperti bully verbal, bully cyber, bully seksual, bully status, atau bully fisik. Seringkali, kekerasan prasangka bisa mengarah ke kebencian tak beralasan. Ajarilah anak atau siswa untuk menghormati dan menghargai perbedaan, serta melaporkan pada orang tua atau guru jika kekerasan prasangka terjadi di sekolah.

Menjadi korban bully tentu bukan sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Luka emosional yang disebabkan bully bisa berbekas hingga dewasa. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus mewaspadai bukan saja tanda-tanda kekerasan pada korban bully, namun juga potensi-potensi pelaku bully. Sedini mungkin, anak-anak harus diberitahu bahwa kelebihan yang dimiliki bukanlah alat untuk melakukan kekerasan pada orang lain. (cho)

Comments

comments