Penderita Kanker Berharap Uluran Tangan Dermawan

0
251

CIANJUR, patas.id – Yuli Yuliawati (38 tahun) hanya bisa terbaring sambil menahan rasa sakit di atas kasur di lorong Ruang Samolo II RSUD Cianjur. Penyakit kanker payudara Stadium 4 membuat rasa sakit yang dirasanya begitu menyiksa.

Warga kampung Gunung Lanjung RT 03 RW 07 Desa Cijedil Kecamatan Cugenang ini diketahui mengidap kanker sejak setahun lalu. Tak adanya biaya membuat penyakit itu terus menggerogoti payudaranya hingga seperti saat ini.

Suami Yuli, Ayi Sopian (45 tahun),  menjelaskan bahwa kanker itu diketahui ketika istrinya mengandung anak ke-4 di usia kehamilan tiga bulan. Saat itu, muncul benjolan sebesar jempol pada bagian atas payudaranya.

“Awalnya dikira benjolan biasa, nanti juga sembuh. Waktu itu pikirannya seperti begitu. Makanya istri saya juga tidak begitu peduli, masih sempat jadi kuli babat rumput dan jualan keripik.”

Namun, beberapa bulan setelah benjolan tersebut muncul, ukurannya terus membesar hingga sama dengan ukuran kepalan tangan orang dewasa. Nanah di ujung benjolan juga muncul seperti halnya bisul. “Setelah lumayan besar, katanya sering sakit. Tapi sama istri saya tidak dirasa (tidak dipedulikan). Saya juga lagi tidak punya uang jadi dibiarkan,” ujarnya.

Beberapa hari setelah anak keempatnya lahir, benjolan itupun pecah dan menyebabkan lubang sebesar kepalan orang dewasa. Air Susu Ibu (ASI) yang bersembunyi di dalam daging pun, menurut sang suami, bisa tampak jika dilihat dari lubang tersebut.

“Kelihatan ASI-nya, makanya sekarang juga dikasih popok bayi supaya tidak basah ke baju atau kasur.”

Setelah pecah, rasa sakit yang diderita oleh Yuli pun semakin menjadi. Terkadang menurut Yuli, ketika sakitnya kambuh, serasa dia akan meregang nyawa. “Daging di payudara ini ‎seperti dicomot dan dicubit, sakit. Kalau sedang normal juga jadinya pegal,” keluhnya.

Secara kasat mata, ukuran payudara Yuli kini tampak berbeda satu sama lain. Payudara sebelah kiri tampak kempis, sementara payudara kanan terlihat begitu besar. Yuli mengaku seluruh hartanya telah habis untuk berobat. “Semua perabotan habis, karena harus ke Bandung buat di kemoterapi. Sempat dirawat di ruang Apel (di RSUD Cianjur, red), sekarang dirawat di Ruang ‎Samolo,” kata Yuli.

Menurut Ayi, entah barang apa lagi yang mesti dijual untuk memenuhi biaya kemoterapi di Bandung dan operasi pengangkatan kanker. “Istri saya harus menjalani kemo enam kali, belum operasi. Saya harap ada dermawan yang mau membantu istri saya untuk meringankan biaya pengobatan,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments