MI Cipelah Sabar Menanti Bantuan Renovasi

0
191

CIANJUR, patas.id – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cipelah di Kampung Cipelah Desa Girimukti Kecamatan Pasirkuda tahun ini kembali tak mendapatkan bantuan renovasi. Selain MI tersebut, ada enam MI lainnya yang rusak parah namun tak kunjung diperbaiki. Namun ironisnya, sekolah yang kondisi bangunannya masih bagus tahun ini justru mendapatkan bantuan.

Hal itu diungkapkan Analis Sarana dan Prasarana Pendidikan Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Cianjur, Budi Lukman. Menurutnya, Kemenag Kabupaten Cianjur sudah mengajukan renovasi untuk MI Cipelah sejak 2014 lalu, baik ke provinsi maupun pusat.

“Tapi tak ada realisasi, termasuk di tahun ini. Kami juga tak tinggal diam, pasti diusulkan, baik yang rusak ringan ataupun berat, khususnya MI Cipelah,” tutur Budi, Jumat (23 Desember 2016) seraya menambahkan bahwa di Cianjur terdapat 221 MI, 129 Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 56 Madrasah Aliyah (MA). Beberapa di antaranya mengalami kerusakan, namun yang rusak berat hanya 6 sampai 7 MI, dan 1 MTs.

“Sekolah yang kondisinya rusak ringan cukup banyak, tapi yang rusak berat hanya beberapa, di antaranya MI Cipelah dan Sirojul Ulum (Kecamatan Cibeber).”

‎Budi mengaku suudah mengajukan usulan perbaikan bagi seluruh sekolah yang rusak secara berbarengan, termasuk MI Cipelah. Tetapi tak ada satupun yang terealisasi. “Bagi MI tidak ada, tapi MTs ada, meskipun nilainya tak besar,” ujarnya.

Konon tidak adanya bantuan diakibatkan habisnya anggaran. Pasalnya, anggaran yang ada dialihkan untuk sertifikasi guru, meskipun tidak seluruhnya anggaran yang dialihkan dari bantuan sarana ke sertifikasi.

“Pengalihannya bukan oleh kami, tapi oleh Kemenag RI. Jadi kami hanya sebatas mengajukan, kalau ada pengalihan, otomatis bantuan untuk sekolah minim.”

Di tahun ini, lanjut Budi, sekolah yang mendapatkan bantuan adalah Ar-Riyad dan Miftahul Falah di Cipanas dengan sumber anggaran dari aspirasi yang ditujukan kepada Pemprov Jawa Barat. “Memang bisa melalui berbagai jalur, bisa lewat aspirasi seperti kedua yayasan tersebut. Dengan jalur politik, bantuan bisa diperoleh. Cipelah juga sudah ditinjau oleh anggota DPR RI, namun entah kenapa tetap tak kunjung mendapatkan bantuan.”

Sekolah yang dikelola yayasan swasta, ungkap Budi, justru tak menghambat turunnya bantuan untuk bangunan sekolah. Bahkan yang banyak dapat bantuan adalah sekolah swasta yang didirikan oleh yayasan. “Memang banyak ‎yang beranggapan jika yayasan swasta sulit dapat bantuan, tapi kenyataannya tidak begitu. Bantuan malah diberikan ke yayasan swasta.”

Budi menambahkan bahwa usulan perbaikan sekolah-sekolah yang rusak rencananya akan diajukan lagi tahun depan. “Kami akan ajukan kembali di awal tahun, semoga saja ada realisasi di 2017,” harapnya.

Seperti yang telah diberitakan belum lama ini, 122 siswa MI Cipelah Desa Girimukti kecamatan Pasirkuda harus belajar di bangunan yang rusak. Bahkan kondisi bangunan tersebut membuat para siswa hanya dapat belajar dalam bangunan saat cuaca cerah, jika hujan, mereka harus pindah ke madrasah untuk belajar.

Sekolah yang sudah berdiri sejak 1953 itu memiliki lima kelas. Namun tiga dari lima kelas yang ada, bukan hanya bocor melainkan memang sudah tak ada lagi genting di atasnya. kaca kelas tak ada, dan temboknya pun sebagian sudah diganti dengan bilik bambu yang kini juga mulai bolong-bolong. (isl)

Comments

comments