Lapar Emosional: Salah Satu Penyebab Kegemukan

0
248

PATAS.ID – Seringkali kita merasa sangat lapar di saat emosi kita sedang berada di titik terendah. Makan, bagi sebagian orang, diakui atau tidak, merupakan salah satu bentuk kenyamanan yang kita cari setiap kali kita merasa stress, lelah, bingung menghadapi masalah, atau tengah dilanda bosan.

Itulah lapar emosional, sebuah kondisi dimana emosi/mood kita berada dalam keadaan tidak stabil namun kita menganggapnya sebagai rasa lapar. Lapar emosional akan membuat kita makan terlalu banyak  dan akibatnya tentu saja berupa kegemukan, terutama jika saat mengalami lapar emosional, kita mengonsumsi makan berkalori tinggi, berlemak, atau mengandung pemanis.

Hubungan antara Mood, Makanan, serta Berat Badan

Lapar emosional adalah salah satu cara untuk menekan emosi-emosi negatif semacam stress, rasa marah, kebosanan, kesedihan, atau kesendirian. Beberapa peristiwa besar (seperti kematian atau perceraian) bisa membuat kita merasa lapar secara emosional hingga makan berlebih. Namun, tekanan hidup sehari-hari juga bisa membuat kita lapar emosional dan mencari penghiburan lewat makanan. Pemicunya antara lain:

  • Konflik hubungan
  • Stress dalam pekerjaan
  • Kelelahan mental
  • Tekanan keuangan
  • Masalah kesehatan
  • Rasa kehilangan
  • Dan lain-lain

Jika kita adalah mengalami lapar emosional dan tak mampu mengendalikannya, maka kesehatan kita menjadi taruhannya. Makan saat dilanda lapar emosional akan menjadi kebiasaan buruk yang sulit diubah. Tak hanya itu saja. Melampiaskan lapar emosional takkan menyelesaikan masalah, karena alih-alih mencari solusi, kita malah melarikan diri dari masalah dengan cara makan dan terus makan.

Melampiaskan lapar emosional dengan makan takkan menyelesaikan masalah.
Melampiaskan lapar emosional dengan makan takkan menyelesaikan masalah.

Siklus ini serupa lingkaran setan bagi orang-orang yang takut gemuk. Saat emosi sedang negatif dan kita mengalami lapar emosional lalu makan sebagai pelampiasan, masalah kita yang sesungguhnya takkan terselesaikan. Oleh karena itu, masalah yang sama akan datang lagi (karena tak dicari solusinya), lalu kita makan lagi, dan lagi. Saat kita mengalami kegemukan dan merasa stress atau bersalah karenanya, kita akan mengalami lapar emosional lagi, lalu makan lagi, masalah yang sama datang lagi, makan lagi, stress lagi, makan lagi, begitu seterusnya.

Bagi mereka yang sering mengalami lapar emosional, para ahli gizi menyarankan hal-hal berikut ini:

  • Buat catatan makanan. Tuliskan apa saja yang kita makan, kapan, berapa banyak, serta emosi atau mood apa yang kita rasakan sebelum makan.
  • Cek realita. Akui dengan jujur, apakah tubuh kita sebenarnya butuh makan atau tidak? Secara umum, tubuh tidak membutuhkan makanan jam 10 saat kita telah cukup sarapan jam 8. Jika perut kita tidak keroncongan, artinya tubuh kita sebenarnya tak butuh makanan.
  • Cari dukungan dari teman atau keluarga. Kita akan cenderung melampiaskan lapar emosional dengan cara makan dan makan jika tak mendapat dukungan orang-orang di sekeliling kita. Orang-orang bertubuh gemuk biasanya mendukung kebiasaan kita, sementara orang-orang kurus akan segan melarang makan. Carilah teman yang bisa diajak bicara dan bisa dipercaya untuk mendukung kita.
  • Alihkan lapar emosional dengan caralain seperti berjalan-jalan, menonton film, bermain dengan hewan peliharaan, membaca, menelepon keluarga, atau kegiatan lainnya yang positif.
  • Singkirkan godaan makan. Jangan menyimpan makanan yang bisa menyebabkan kegemukan di rumah atau di meja kerja. Jangan berbelanja makanan di saat mengalami lapar emosional.
  • Jauhkan makanan di tempat atau situasi dimana kita akan merasa emosional. Jika kita akan menonton tayangan TV yang bisa membuat kita biasa mengalami lapar emosional, jauhkan makanan dari ruang TV. Jika kita sering stress di tempat kerja, jangan simpan makanan di meja kerja, dan seterusnya.
  • Jika nafsu lapar emosional tak bisa dikendalikan, pilih makanan yang menyehatkan seperti buah-buahan yang kaya serat atau sayur-sayuran.
  • Jika kita masih tak bisa mengontrol lapar emosional, pertimbangkan menjalani terapi dengan ahli kesehatan. Terapi bisa membuat kita mengerti dan mengenali hubungan antara mood/emosi serta rasa lapar yang kita rasakan. (cho)

Comments

comments