Teknologi Menyakiti Punggung, Leher, dan Mata

0
179

PATAS.ID – Pengguna aktif teknologi seperti ponsel dan komputer pasti sering (atau lambat laun) merasakan keluhan pada bagian tubuh seperti punggung, leher, dan mata, serta mengalami sulit tidur atau kehilangan fokus.

Menurut para pakar kesehatan, inilah resiko-resiko yang harus dihadapi manusia yang hidup di era digital. Dengan kata lain, semakin sering kita memelototi layar (komputer, tablet, ponsel), semakin besar pula resiko mendapatkan keluhan kesehatan di atas. Dalam jangka pendek, terlalu sering memelototi layar bisa mengakibatkan lelah dan stress. Namun dalam jangka panjang, bukan hanya tubuh yang mendapatkan dampak negatif teknologi, tapi juga otak. Tumpul memori dan kecemasan saat tak memegang gadget adalah salah satunya.

Andrew Lui, seorang profesor terapi dan rehabilitasi fisik di Universitas California, San Francisco, mengungkapkan bahwa orang-orang yang bekerja lebih dari 4 jam berturut-turut setiap harinya di depan komputer memiliki resiko tinggi terkena sakit leher dan punggung. Salah posisi duduk dan sering menunduk adalah penyebab utamanya.

“Punggung kita adalah sebuah sistem penopang yang mengambil alih semua tekanan dan menyebarkannya secara merata ke bagian tubuh yang lain. Artinya, jika punggung kita sakit, maka bagian tubuh yang lain akan merasakan akibatnya.”

Namun ternyata, penggunaan ponsel lebih berbahaya dibanding komputer. Menunduk untuk membaca huruf-huruf yang kecil akan sangat memberatkan leher. Menurut Kenneth Hansraj, ahli bedah tulang di Poughkeepsie, New York, menunduk untuk melihat ponsel sama dengan memberati leher kita dengan beban seberat 60 pound atau kurang lebih 27 kilogram.

Kerusakan dan rasa sakit yang diderita punggung dan leher awalnya mungkin takkan terasa. Namun lama-kelamaan, otot dan urat dapat terenggang, syaraf-syaraf juga akan terpengaruh. Sebagai contoh kecil, buku jari kelingking pengguna ponsel aktif tentu biasanya sedikit membengkok dan terasa pegal saat diraba. Sendi jempol pengguna ponsel pun biasanya rentan cedera. Hal yang sama bisa terjadi pada pemain konsol game.

Untuk mata, layar sangat berbahaya karena melelahkan. Menurut Jeff Hopkins, manajer senior perusahaan optik terkemuka Zeiss, saat melihat layar –terutama layar kecil, otot-otot mata akan dipaksa berkontraksi agar tidak berkedip. Secara medis, kontraksi ini bisa mengeringkan kelenjar mata.

 

Berbahaya Bagi Otak Juga

Tak hanya tubuh yang bisa terkena dampak negatif teknologi, namun juga otak. Menurut Anthony Wagner, profesor psikologi dan neurologi di Universitas Stanford, curahan perhatian pada e-mail, aplikasi, atau media sosial membuat kita lamban merespon informasi lain yang datang dari luar layar.

“Otak kita tidak dirancang multitasking, otak hanya bisa memproses satu data setiap kalinya. Jika kita terlalu fokus pada satu hal, kita bisa melupakan hal-hal lain di sekitar kita.”

Selain itu, berbagai studi telah membuktikan bahwa menatap layar terutama ponsel pada malam hari bisa menghambat produksi melatonin, hormon pengatur tidur. Terpapar warna hijau atau biru sebelum tidur sangat berbahaya, apalagi jika terpapar cahaya biru yang dikeluarkan ponsel, karena efeknya dua kali lipat lebih kuat dalam menghambat melatonin. Kekurangan melatonin akan membuat kita sulit tidur dan lambat laun menggiring pada penyakit yang lebih berbahayas seperti obesitas, diabetes, depresi, dan lain sebagainya.

Jadi, tak ada salahnya sesekali menjauh dari layar komputer atau ponsel. Setidaknya setiap satu jam sekali, berdirilah dari kursi atau tinggalkan ponsel dalam laci, lalu berjalan-jalanlah di sekitar ruangan selama minimal 5 menit, begitu menurut saran para ahli. (cho)

 

Comments

comments