Setiap Bulan, 50 Warga Cianjur Berangkat jadi TKI

0
190

CIANJUR, patas.id – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur mencatat setiap bulannya terdapat 50 warga Cianjur yang berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), baik di sektor formal ataupun informal.

Kepala Seksi Bina Lembaga Usaha Ketenagakerjaan Dinsosnakertrans Kabupaten Cianjur, Ahmad Ubaidillah, mengatakan, jumlah tersebut sudah menurun drastis dibandingkan beberapa tahun lalu, terlebih sebelum keluarnya moratorium TKI ke negara-negara di Timur Tengah.

“Kalau di 2010 ke sana (tahun-tahun sebelumnya, red), sebulan bisa 1.200 TKI. Sekarang sudah sangat sedikit, karena tahu regulasi dan tidak mau menjadi korban kekerasan di sana, sebab melihat seringnnya kekerasan pada TKI khususnya di sektor informal atau pembantu,” papar Ubai, Kamis (8 Desember 2016).

Menurutnya, total TKI asal Cianjur yang tercatat saat ini berjumlah 1.964 orang dengan perincian 596 di antaranya bekerja di Malaysia, 170 orang di Singapura, 135 orang di Taiwan, 15 orang di Brunei Darusalam, dan selebihnya tersebar di negara-negara di Timur Tengah.

Jika didata berdasarkan pendidikan, dari 1.163 orang di antaranya hanya mengenyam pendidikan hingga SD, SMP sebanyak 558 orang, SMA sebanyak 228 orang, Diploma 5 orang, dan sarjana 5 orang.

Ubai mengatakan, mayoritas TKI yang mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari majikannya ialah TKI yang tidak menempuh prosedur formal. Sementara mereka yang menjalani persyaratan prosedural untuk menjadi TKI jarang mendapatkan perlakuan tidak baik.

“Kalau yang resmi itu banyak keuntungannya, mulai dari asuransi, hingga jaminan lainnya. Sementara yang tidak resmi tentu di sana mereka juga kucing-kucingan dengan petugas, sebab tak ada identitas resmi. Visa yang dipakai pun untuk wisata bukan untuk bekerja.”

Menurut dia, keberadaan TKI ilegal terjadi lantaran keberadaan sponsor ilegal yang menawarkan pembayaran jika ingin bekerja, padahal seharusnya calon TKI yang mengeluarkan uang untuk mengurus administrasi.

“Jadi sebenarnya mereka juga tak bisa disebut TKI melainkan korban trafficking. Mereka dijual di sana kepada majikannya, dengan nilai yang mencapai puluhan juta. Makanya masih banyak sponsor ilegal. Warga sendiri yang harus pintar memilih, jangan terbujuk bayaran tinggi sebelum bekerja atau akibatnya bisa fatal.”

Salah seorang TKI di Brunei Darusalam, Masruroh (40 yahun), mengaku terpaksa pergi bekerja ke luar negeri meninggalkan keluarga untuk mencari modal usaha dan menghidupi anak-anaknya di kampung. Tidak adanya lapangan pekerjaan membuat pilihan berat menjadi TKI diambil.

“Ijazah kan sampai SD, susah cari kerja di daerah, usaha juga kurang baik kemarin-kemarin. Saya pergi kerja ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mengumpulkan modal usaha, saya tidak ingin berangkat lagi, cukup sekali ini saja,” kata dia. (isl)

Comments

comments