Target IPM Cianjur 2017: Naik 7 Persen

0
203

CIANJUR, patas.id – ‎Institute Social Economic and Development (Inside) Cianjur mendorong Pemerintah Kabupaten membentuk gugus tugas khusus ‎untuk mengejar peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Cianjur yang masih rendah.

Direktur Inside, Yosep Somantri, mengatakan bahwa dalam peningkatan IPM, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) akan mengalami kesulitan sebab setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memiliki ego sektoral sendiri. “Memang Bappeda jadi leading sector, tapi pasti mengalami kendala khusus, makanya mesti dibuatkan gugus tugas,” tuturnya, Selasa (29 November 2016).

Gugus tugas dimaksud diisi oleh pejabat pemerintahan yang akan bekerja dengan berbasis data. Nantinya, pekerjaan mereka akan fokus pada perbaikan setiap sektor yang dinilai tidak maksimal. “Dibuat dan ditunjuk khusus oleh Bupati supaya memiliki kekuatan penuh, tapi tetap bekerjanya berdasarkan data.”

Peningkatan IPM, lanjut Yosep, juga harus disesuaikan dengan realitas dan kemampuan. Dengan kondisi SDM Cianjur saat ini, Pemkab tidak mesti menargetkan angka tinggi untuk peningkatan persentasi.

“Ini berkaitan dengan pembangunan manusia. Kalau jalan, dengan anggaran sekian, mudah dengan cepat diperbaiki. Tapi manusia itu berbeda, makanya harus serealistis mungkin.”

Sementara di tempat terpisah, Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar menargetkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Cianjur bisa naik hingga tujuh persen pada 2017. Berbagai upaya pun akan dilakukan untuk mencapai target tersebut.

‎”Pokoknya harus naik 7 persen, dan harus bisa.”

Target tersebut dinilai Irvan realistis. ‎Dalam masa kepemimpinan Bupati Cianjur sebelumnya, IPM Kabupaten Cianjur sebesar 58,6 poin pada 2011 hanya meningkat menjadi 62,4 poin pada 2015.

Pada masa jabatan Tjetjep Muchtar Soleh, data kesehatan diklaim menunjukkan peningkatan, ditandai dengan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Pada 2011, terdapat 331 kasus kematian bayi dan 70 kasus kematian ibu. Sementara pada 2015, keduanya menurun, masing-masing 185 kasus untuk kematian bayi dan 49 kasus kematian ibu.

Angka harapan hidup 66,45 tahun pada 2011 baik menjadi 67,07 tahun pada 2015. Pada tahun 2011, angka partisipasi sekolah yang sebesar 95% untuk SD, 85% untuk SMP dan 39% untuk SMA meningkat menjadi 98% untuk SD, 96% untuk SMP, dan 53% untuk SMA pada 2015.

Irvan mengungkapkan kesulitan naiknya IPM Kabupaten Cianjur terletak pada tiga faktor, yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Oleh karenanya, peningkatan sebesar 4% dinilai wajar dan dapat direalisasikn. ‎Pasalnya pada 2017, setiap organisasi Perangkat Daerah (OPD) bakal difokuskan pada program yang belum berjalan maksimal serta berpotensi meningkatkan IPM.

“Dinas Kesehatan nanti fokusnya ke AKI dan AKB, sedangkan Dinas Pendidikan bakal berupaya dalam meningkatkan Rata-rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK). Jadi yang selama ini lemah bisa meningkat, apalagi keduanya jadi faktor penilaian IPM.”

Untuk bidang perekonomian, Irvan berharap Pemda mampu meningkatkan jalan mantap supaya hasil panen dapat didistribusikan dengan cepat dan mudah. Tidak hanya itu sektor UMKM bakal dikedepankan sebab menjadi penunjang dalam rencana Pemkab menjadikan Cianjur Kota Wisata Pangan Dunia.

“Sektor ekonomi ditingkatkan, ruang terbuka hijau juga ditambah‎. Kami yakin dengan segala upaya tersebut, IPM Cianjur dapat meningkat, sesuai target di 7 persen,” tegasnya. (isl)

Comments

comments