Anhar Gonggong: Hati-hati Pahlawan Kesiangan

0
174

CIANJUR, patas.id – Hati-hati pahlawan kesiangan yang muncul untuk mencari uang. Pahlawan yang sejati adalah mereka yang merelakan nama dan dirinya hilang untuk memperjuangkan Republik Indonesia.

Hal itu ditegaskan sejarawan nasional, Anhar Gonggong, saat menyampaikan materi di Seminar Nasional “Horor Takokak Sepenggal Sejarah yang Terlupakan” di Aula Mapolres Cianjur, Sabtu (12 November 2016). Menurutnya, para pahlawan Indonesia menggunakan otak dan hatinya untuk meneguhkan diri merebut kemerdekaan, bukan yang terpaku pada uang.

“Kalau untuk mencari uang, buat apa para pahlawan dulu rela mempertaruhkan nyawa. Cukup mengabdi pada Belanda agar dapat pekerjaan dan jabatan. Tapi mreka pakai ini (gerakan menunjuk dada, red), mereka pakai nurani dan juga otaknya sehingga bangsa ini bisa seperti sekarang, menjadi negara yang merdeka.”

Menurut Anhar, oknum yang mengaku keluarga dan para pahlawan kesiangan yang meminta tanda jasa besar kemungkinan muncul jika peristiwa Takokak bisa dibuktikan sebagai kejahatan perang dan pihak Belanda mengakuinya.

“Seperti di Rawagede, kasus kekejaman itu diungkap dan pihak Belanda memberikan ganti rugi. Tapi yang muncul malah oknum-oknum. Yang benar-benar keluarga tidak mendapatkan apa-apa selain rasa malu dan penghinaan atas kematian yang digantikan nominal.”

horor-takokak5
Sejarawan Anhar Gonggong dalam diskusi “Horor Takokak Sepenggal Sejarah yang Terlupakan” di Mapolres Cianjur.

Anhar menegaskan pihak kepolisian harus menangkap mereka yang memanfaatkan pelanggaran HAM tersebut. “Tidak mustahil di Cianjur juga terjadi, makanya tangkap mereka yang mengaku-ngaku. Ungkap perkara ini tapi jangan ada apa-apa. Kita tidak kenal siapa mereka yang tewas dalam peristiwa Takokak tapi perlu menghargai dengan mengungkap peristiwanya bukan mengambil untung dari mereka.”

Senada dengan Anhar, Iljas Humaedi (78 tahun), saksi sejarah Takokak sekaligus anak dari korban peristiwa tersebut, mengatakan bahwa dia tak ingin ada uang dari pengungkapan sejarah tersebut, sebab orangtua dan pamannya yang tewas telah tenang serta mengikhlaskan diri gugur dalam perang.

“Uang tak akan mengembalikan nyawa mereka. Ungkap dan jangan ada uang,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments