Uji Radioaktif Ungkap Perdagangan Gelap Gading Gajah

0
283
Ivory products are prepared for destruction during a ceremony in Beijing, Friday, May 29, 2015. China's State Forestry Administration and General Administration of Customs officials presided over a ceremony to destroy more than 660 kilograms of ivory that was seized after being smuggled into the country, as part of a crackdown on the illegal trade. (AP Photo/Ng Han Guan)

PATAS.ID – Uji radioaktif yang dilakukan oleh para peneliti baru-baru ini mengungkap fakta mengerikan tentang perdagangan ilegal daging gajah di pasar gelap dunia. Menurut hasil penelitian, 90% gading gajah yang beredar berasal dari gajah yang baru beberapa tahun bahkan beberapa bulan dibunuh.

Selama ini, pemerintah negara-negara penjual gading gajah selalu beralasan bahwa gading gajah yang dijual di negara mereka adalah gading stok lama atau hasil daur ulang. Namun, Kevin Uno, seorang pakar geokimia dari Columbia University dan Thure Cerling dari University of Utah (Amerika Serikat) berhasil membantah alasan tersebut.

Sebelumnya pada tahun 2013, Uno berhasil menunjukkan sisa-sisa zat radioaktif isotop karbon-14 yang tersisa dari ledakan uji nuklir pada tahun 1950-1960-an di Afrika. Lewat uji radioaktif tersebut, sisa-sisa zat nuklir yang menyerap pada air tanah dan dedaunan berhasil ditemukan pada tubuh dan gading gajah.

Melalui uji radioaktif serupa, Uno dan Cerling kemudian meneliti usia gading gajah. Metode penelitian dilakukan dengan memeriksa 231 sample gading yang diambil secara acak dari pasar gelap gading di Kenya, Thailand, Hong Kong, Malawi, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan and Togo.

Hasil penelitian membuat para pecinta binatang marah. Gading gajah yang beredar di pasaran dunia ternyata berasal dari gajah yang dibunuh beberapa tahun bahkan beberapa bulan sebelum penelitian. Menurut Uno, hal ini menunjukkan bahwa harga gading yang mahal dan permintaan pasar yang besar membuat perburuan gading dan pembunuhan gajah terus dilakukan.

“Orang-orang kaya ingin memamerkan gading gajah di rumah mereka sebagai simbol status dan kemakmuran. Saya bahkan mendengar bahwa di Cina, toko-toko kerajinan gading gajah mempekerjakan pengukir-pengukir hebat untuk memenuhi permintaan pasar. Tapi yang beredar di pasaran bukanlah gading lama seperti yang sering diklaim para pedagang. Hanya sedikit atau bahkan nyaris tak ada gading lama dari gading yang kami teliti. 90% gading tersebut umurnya di bawah 2 tahun.”

gading-gajahHarga gading semakin meroket dengan banyaknya protes mengenai peredaran gading gajah dan kelangkaan gajah hutan. Menurut International Union for Conservation of Nature, populasi gajah Afrika menyusut dari 526.000 menjadi 415.000 ekor antara tahun 2006 hingga 2015. Tanzania sebagai salah satu negara yang gajahnya banyak dibunuh, baru-baru ini mengakui telah kehilangan 60% populasi gajah mereka.

George Wittemyer dari organisasi Save the Elephants yang berpusat di Nairobi, Kenya, yakin bahwa perdagangan gading gajah dikelola oleh sindikat internasional yang profesional.

“Hasil penelitian ini meyakinkan kami bahwa tak ada stok lama seperti yang digembar-gemborkan selama ini. Artinya, lembaga konservasi sekarang memiliki misi jelas, yakni melindungi gajah dari perburuan gading dan pembunuhan.”

Cina, Amerika Serikat, Vietnam dan Thailand adalah negara tujuan utama peredaran gading gajah. Menurut Uno, dengan berkurangnya populasi gajah, transaksi gading memang semakin jarang dilakukan dan pengirimannya pun sedikit. Tapi menurut Uno, perdagangan ilegal gading gajah harus dihentikan bukan karena gajah semakin langka, melainkan karena gajah memiliki peranan besar dalam evolusi manusia dan lingkungan.

Jika populasi gajah menyusut, dampaknya akan terasa langsung oleh bumi. Gajah merupakan hewan berkelompok yang sering berkelana untuk mencari tempat tinggal baru. Sepanjang perjalanan, mereka menyebarkan benih-benih pohon yang keluar dari kotoran mereka.

“Kotoran gajah menjadi semcam kantong benih terbaik untuk jenis-jenis tanaman tertentu. Ada beberapa biji tanaman yang tak bisa tersebar dengan bantuan angin atau binatang lain karena ukurannya yang besar dan berat. Gajah mampu memakan dan mengeluarkan kembali benih-benih langka tersebut lewat kotorannya sepanjang jalan.”

Uno menambahkan bahwa gajah telah hidup berdampingan dengan manusia selama jutaan tahun. “Gajah memegang peranan penting dalam evolusi bumi. Sangat tragis jika kita kehilangan hewan berjasa itu karena kita rakus ingin mengoleksi gadingnya,” pungkasnya. (cho)

Comments

comments