60% TKI Cianjur Hanya Lulusan Sekolah Dasar

0
155

CIANJUR, patas.id – Sebanyak 60 persen dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Cianjur hanya mengenyam bangku pendidikan di tingkat SD. Konsekuensinya, mayoritas TKI Cianjur kurang mampu menyerap ilmu saat menerima pelatihan atau tata cara bekerja dan berbahasa di negara tujuan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi Bina Lembaga Usaha Ketenagakerjaan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Cianjur, Ahmad Ubaidillah. Menurutnya, TKI asal Cianjur saat ini berjumlah 1.964 orang, 1.163 orang di antaranya hanya mengenyam pendidikan hingga SD.

“Selebihnya, SMP sebanyak 558 orang, SMA sebanyak 228 orang, diploma 5 orang, dan sarjana 5 orang,” ucap Ubai.

Aturan yang membebaskan pekerja dengan pendidikan SD atau bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah sekalipun membuat para TKI asal Cianjur memberanikan diri bekerja di luar negeri.

“‎Sempat keluar aturan TKI minimal SMP, tapi langsung diprotes. Katanya lapangan kerja sedikit dan mau bekerja ke luar negeri dilarang, dianggapnya melangar HAM. Makanya aturan tersebut dicabut lagi, sehingga lulusan SD atau tidak sekolah, jika memang mampu, bisa jadi TKI ke luar negeri baik di sektor formal maupun informal.”

Ubai mengungkapkan, latar pendidikan yang rendah terkadang membuat penyerapan materi pelatihan tidak maksimal. Berbeda halnya dengan TKI yang latar pendidikannya SMA atau lebih.

“Untuk berangkat ke luar negeri harus dididik dulu selama beberapa hari. Untuk yang pendidikannya tinggi, waktu pendidikan yang singkat dianggap maksimal, tapi untuk yang SD ke bawah itu bisa jadi sangat kurang.”

Hal itu juga yang terjadi kepada lima warga Cianjur ‎yang bakal menjadi TKI ilegal atau dinilai hampir sebagai korban trafficking lantaran dokumen yng tidak resmi.”Mereka rata-rata berpendidikan SD. Itu membuat mereka tidak paham prosedur pembuatan dokumen dan mudah terbujuk untuk diberangkatkan dengan dokumen tak jelas.”

Oleh karena itu, Ubai mengimbau warga Cianjur yang ingin menjadi TKI agar tidak bertindak nekad, bekerja tanpa punya dasar pendidikan yang memadai. “Dengan dasar pendidikan yang tinggi, kinerja juga akan maksimal. Kalau sudah begitu, pekerja indonesia tidak akan dianggap remeh,” tandasnya. (isl)

Comments

comments