Pengakuan Mantan Perekrut Santri Dimas Kanjeng

0
187

PATAS.ID, Cianjur – Fauzi Ahmad (45 tahun), warga asal Kampung Legok Desa Sukamanah Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur merupakan mantan pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Bahkan ia merupakan seorang koordinator atau perekrut calon santri atau pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Fauzi yang kini berpraktek sebagai ahli bekam ini mengaku pernah menjadi pengikut Dimas Kanjeng di awal 2013 lalu. Namun belum genap setahun, ia memutuskan mundur, padahal saat itu ia sudah berhasil merekrut sebanyak 18 orang warga Cianjur untuk menjadi pengikut atau santri Dimas Kanjeng.  “Semuanya sudah setor uang masing-masing Rp 2,5 juta. Sudah saya serahkan juga ke beliau (Dimas Kanjeng, red). Tapi di tengah jalan saya mundur, uang mereka pun sudah saya kembalikan lagi, bukti pengembaliannya pun ada,” papar Fauzi.

Keputusan Fauzi untuk mundur diambil setelah ia meminta petunjuk kepada Allah SWT atau shalat istikharah dan meminta saran pendapat dari ulama dan karib kerabatnya. Meski mundur, ia mengaku tetap menaruh hormat kepada Dimas Kanjeng, karena selama menjadi pengikutnya belum pernah merasa dirugikan.

“Bahkan saya dikasih uang Rp 7 juta oleh beliau untuk ongkos pulang waktu saya mundur.”

Fauzi membenarkan jika Dimas Kanjeng mampu mengeluarkan uang dari badannya dan memiliki kotak penyimpanan emas dan mata uang asing seperti ramai diberitakan saat ini. Fauzi bahkan mengaku pernah melihat secara langsung aksi Dimas Kanjeng mengeluarkan berlipat-lipat uang tersebut.  “Dipercaya atau tidak, kenyataannya demikian. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Di luar nalar memang, tapi seperti itu kenyataannya dulu,” ucapnya.

Menurut Fauzi saat ditemui di rumahnya, selain mampu mengeluarkan uang, Dimas Kanjeng juga mampu mengeluarkan perhiasan, mulai dari emas, permata dan berlian, dan barang-barang berharga lainnya.

“Saya kira saat itu semua orang pasti takjub melihat kesaktiannya. Jadi pantas ada orang-orang pintar dari mulai level atas hingga bawah bisa terpincut karena memang kalau posisi kita di sana dan melihatnya langsung,  itu luar biasa. Selama saya menjadi pengikutnya, saya dua kali melihat demonstrasinya.”

Fauzi menambahkan, seusai demonstrasi, Dimas Kanjeng akan membagi-bagikan uang kepada siapapun yang hadir. “Dibagikan uang-uangnya, beliau bilang untuk ongkos pulang, makan di jalan, kalau lelah bisa untuk menginap di hotel,” ucapnya.

Namun, setengah tahun menyaksikan betapa mudahnya mendapatkan uang di padepokan justru terasa janggal dan membuat Fauzi gundah. “Saya lalu minta petunjuk sama kiai-kiai sepuh, banyak meminta pendapat dengan MUI, banyak bicara dan sharing dengan aparat pemerintah, terutama Salat Istikharah. Setelah itu saya memutuskan untuk menarik diri,” terangnya. (bay)

Comments

comments