Mamaos Tembang Sunda Cianjuran Semakin Dikenal

0
159
Abah Dadan, pelestari seni mamaos Cianjur

CIANJUR – ‎Mamaos atau tembang sunda Cianjuran menjadi salah satu pilar budaya yang semakin dikenal. Tidak hanya di tanah kelahirannya, namun juga di Jawa Barat, bahkan menyebar di Nusantara.

Lahirnya seni tembang Sunda Cianjuran ini tidak lepas dari peran Bupati Cianjur, RAA Kusumaningrat atau yang lebih dikenal Dalem Pancaniti pada 1834-1864 silam. Di tempat bernama Pancaniti yang dulu lokasinya ada di depan Pendopo, sang Dalem menciptakan seni tersebut.

“Awalnya beliau mendapatkan ilham untuk membuat sebuah kesenian yang berdasar pada seni pantun Pajajaran‎,” ujar Abah Dadan (72 tahun), salah seorang pelaku seni Mamaos Cianjur.

Setelah sekian lama berpikir dan menyusun pantun, lanjut Abah Dadan, akhirnya Dalem Pancaniti menyelesaikan lagu pertamanya dengan judul ‘Layar Putri’ yang menggambarkan kebingungannya dalam menerjemahkan pikiran untuk membentuk sebuah kesenian.

‎”Setelah itu beberapa lagu diciptakan. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 29 lagu. Tapi bukan berarti setiap hari Dalem Pancaniti buat lagu, setahun itu paling hanya satu, sebab harus tetap mengurus pemerintahan.”

Sejak saat itu, para ahli seni di pemerintahan Cianjur mulai mengembangkn seni tembang tersebut, Kecapi dan Suling pun dijadikan alat untuk mengiringi pantun tersebut. ‎”Kecapi yang dibuat juga berbeda, ada 20 senar yang diartikan sebagai kelipatan dari ajaran para wali.”

Berbeda dengan kesenian lainnya, kesenian yang dikukuhkan namanya menjadi Mamaos pada 1960-an ini menjelaskan atas hubungan manusia dengan manusia, alam, dan sang pencipta. Maka dari itu, lirik di dalam setiap lagunya pun ialah ‘papatah’ atau ajaran bagaimana menjalani hidup.

“Sama dengan ngaos. Bedanya ngaos itu membaca yang tersurat, sedangkan mamaos membaca yang tersirat. Makanya Mamaos ini berpegang pada syareat, tarekat, hakikat, dan makrifat,” tambah Abah Dadan.

Dadan mengakui, jika Mamaos tak semenarik kesenian lainnya, seperti dangdut atau lain-lain. Namun, kesenian ini memberikn nilai tersendiri bagi setiap yang memainkan atau sekedar menyaksikan.

“Mamaos bukan hanya indah di telinga, tapi juga sampai ke hati.”

Di era modern ini, Mamaos terus dipertahankan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Menurut Abah Dadan, hal itu dilakukan untuk menjaga pilar budaya Cianjur dari masuknya ‎kesenian atau kebudayaan luar yang sejatinya tak seiring dengan karakter orang Cianjur.

“‎Alhamdulillah, Padepokan pancaniti, Paguyuban Pasundan, Lembaga Kebudayaan Cianjur, dan Disbudpar masih mendukung dan turut melestarikan Mamaos. Tentu abah berharap Mamaos terus tumbuh, sebab dari Mamaos abah bisa berangkat ke luar negeri. Mamaos juga yang membuat abah dikenal orang luar, mereka sengaja datang untuk belajar Mamaos, masa iya orang Cianjurnya sendiri tidak mau?” tutup Abah Dadan. (isl)‎

Comments

comments