Pernyataan Saksi Mata Penembakan Berbeda dengan Polisi

0
196

CIANJUR – Pengungkapan proses penangkapan Asep Sunandar alias Mpep (25 tahun), pelaku kekerasan dan penganiayaan yang dituturkan oleh Polres Cianjur ternyata berbeda dengan pernyataan saksi mata sekaligus teman pelaku yang turut digiring dalam penangkapan pada Sabtu (10 September) dini hari.

Berdasarkan penuturan pihak kepolisian, petugas sempat memberikan tembakan peringatan namun tak digubris, dan pelaku memecahkan kaca untuk melarikan diri kemudian menembaki petugas. Akhirnya petugas memberikan tindakan dengan menembak kakinya.

Karena masih melawan, poetugas arahkan tembakan ke tangan, dada, dan pinggang. Saat itu pelaku dalam keadaan sadar, sehingga sempat membawa ke rumah sakit namun begitu tiba nyawanya sudah tak tertolong.

Namun berdasarkan keterangan Dani (34 tahun), pada saat kejadian pelaku berada di rumahnya. Saat itu pelaku tengah menginap di rumanya bersama dua teman lainnya.

Sekitar pukul 04.00 WIB, Dani mendengar suara gerbang depan yang terbuka, ketika dilihat ada seseorang yang tengah berdiri sambil mengenakan kupluk. “Pas ditanya enggak ngejawab, tiba-tiba beberapa orang dari belakangnnya datang dan langsung menuju kamar saya di lantai dua (tempat pelaku dan temannya yang lain berkumpul). Saya dijaga oleh dua petugas,” kata dia saat ditemui, Minggu (11 September).

Saat penggerebekan terdengar suara ribut di dalam kamar kemudian dua petugas lainnya masuk untuk membantu. “Saya lari dari situ karena takut. Apalagi mereka bawa senjata. Terdengar suara tembakan sekali itupun ke atas (tembakan peringatan, red).”

Irvan (34 tahun) saksi mata sekaligus teman Asep yang ikut ditangkap mengungkapkan, pada saat penangkapan Asep memang hendak melarikan diri lewat jendela. Namun karena ketinggian yang lebih dari 3 meter dari lantai dua ke tanah, Asep membatalkan niatnya dan hendak lari melalui pintu. “Pas balik kanan sudah disergap sama polisi.”

Pada saat penangkapan, lanjut Irvan, ketiganya langsung dibawa dengan kondisi mata ditutup menggunakan lakban dan tangan terikat.

“Saat itu Mpep masih hidup, dia jalan di depan. Tapi ketika di mobil kami dipisah, kalau saya sama teman saya yang satu lagi. Mpep dibawa di mobil lain.”

Setelah dari situ, ungkapnya, Mpep tidak bersama mereka lagi bahkan sampai proses pemeriksaan selesai. Lantaran tak terlibat dalam kasus Mpep, keduanya dibebaskan.

“Kami mah mikirnya sudah dijebloskan ke sel atau pengembangan. Soalnya enggak ada pas pemeriksaan. Tahu-tahu ketika pulang ada kabar Mpep meninggal,” tuturnya.  (isl)

Comments

comments