Wisata Pangan Dunia Berbuah Trafficking

0
259

CIANJUR – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, mengingatkan Pemkab Cianjur agar melakukan antisipasi dini apabila hendak menjadikan Cianjur sebagai kota wisata pangan dunia, sebab banyaknya wisatawan membuat prostitusi makin marak. Jika dibiarkan maka trafficking akan meningkat dan alih-alih jadi tujaun wisata yang positif, Cianjur bisa menjadi tempat tujuan wisata seks.

Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan Kasus P2TP2A kabupaten Cianjur, Lidya Indiyani Umar, mengatakan bahwa tujuan Pemkab untuk menjadikan Cianjur sebagai wisata pangan dunia merupakan hal yang positif, bahkan dengan begitu eknomoni warga bisa meningkat dengan membuat usaha kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Cianjur. “PAD (Pendapatan Asli Daerah) Cianjur juga dimungkinkan naik dengan pesat. Kami mengapresiasi hal tersebut,” ujarnya.

Namun, rencana itu harus juga diimbangi dengan antisipasi terjadinya prostitusi dan trafficking. Pasalnya wisatawan tidak hanya berniat untuk berkunjung menikmati alam, namun beberapa di antaranya juga mencari kepuasan birahi dengan mencari wanita penghibur saat berlibur. Jika hal itu sudah terjadi, lanjut Lidya, kasus trafficking juga akan meningkat.

“Ini yang harus diantisipasi, banyak terjadi di kota-kota lain. Wisatawan khususnya dari luar kota dan luar negeri banyak yang berwisata sembari mencari Wanita untuk memnuhi kebutuhan birahi.”

Berdasarkan data P2TP2A, pada tahun 2014 dan 2015 terdapat 25 kasus trafficking. Sasaran korban perdagangan pada usia 0-25 tahun dengan mayoritas pendidikan hanya di tingkat sekolah dasar. Tahun 2014 ada 18 kasus, pada 2015 turun menjadi 7 kasus.‎ Di tahun ini terdapat 56 kasus kekerasan terhadap anak yang di antaranya juga termasuk kasus trafficking.

prostitusi-trafficking
Banyak anak-anak yang dijual melalui perdagangan seks online.

‎”Pelaku trafficking masuk dalam jaringan yang kuat, bahkan di setiap daerah pun terdapat kepanjangan tangan dari pelaku utamanya. Kemungkinan besar kasus traficking, dimana korbannya menjadi budak seks akan meningkat apabila tidak dilakukan antisipasi oleh Pemkab.”

Oleh karena itu, Lidya mendesak Pemkab untuk melakukan langkah antisipasi dengan penguatan jaringan atau menggalakan program guna mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan merusak generasi Cianjur terutama para kaum perempuan.

“Kami harap perlindungan dilakukan. Jangan sampai niat baik Pemkab berubah jadi petaka,” tandasnya. (isl)

Comments

comments