Korban Prostitusi Gay Terjangkit Penyakit Menular Seks

0
206

 

JAKARTA – Menyusul terbongkarnya jaringan prostitusi anak di bawah umur untuk kaum gay yang dijalankan oleh tersangka Ario Raharjo (41 tahun) di wilayah Cipayung Bogor oleh polisi cyber, dicurigai salah seorang anak yang menjadi korban prostitusi gay terjangkit penyakit menular seksual (PMS).

Kekhawatiran ini diungkapkan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Kantor Wapres, Rabu (7 September).

“Saya bukan dokter, tapi saya mendapatkan informasi indikasinya kemungkinan salah satu dari jenis PMS.”

Terbongkarnya bisnis prostitusi gay oleh Ario Raharjo dimulai saat polisi cyber menemukan akun Facebook Ario yang menampilkan foto-foto korban dengan tarif yang telah ditentukan. Saat tempat kos AR digeledah, ditemukan ribuan kondom dan 7 anak lelaki dengan rentang umur 13-23 tahun. Ario sendiri ditangkap di sebuah hotel di Jakarta.

Praktek prostitusi Ario Raharjo dilakukan lewat Facebook dengan cara memajang foto dan harga anak-anak lelaki yang dijualnya, yang hampir semuanya berasal dari golongan ekonomi lemah. Jika terjadi transaksi, korban dihubungi Ario lewat telepon dan diberi upah sebesar 100-200 ribu rupiah meskipun tarif mereka rata-rata 1,2 juta rupiah. Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa jumlah korban yang dieksploitasi mencapai 148 orang.

Karena perbuatan melanggar hukum tersebut, Ario Raharjo diancam pasal berlapis yakni Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Ketujuh anak lelaki yang ditemukan di tempat kos Ario kini dirawat di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA) Bambu Apus, Jakarta Timur. Tempat ini dipilih karena memiliki fasilitas lengkap untuk penanganan korban perdagangan manusia dan eksploitasi seksual. Bambu Apus tidak hanya menerima pasien dari Jakarta, namun juga dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan daerah-daerah lain.

“Di Indonesia ada 18 RPSA. Namun, RPSA Bambu Apus itu yang paling lengkap fasilitasnya didukung dengan tenaga konselor, psikolog dan pekerja sosial,” tegas Khofifah. (cho)

Comments

comments